Senin, 03 Desember 2012

ABSTRAK & BAB I


NAMA : LAILA ZAHIRAH RAHMAH 

NPM     : 19210813 

KELAS : 3EA17 

TUGAS : METODE RISET 


ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK COFFE 


ABSTRAK 

       Dalam tulisan ini berfokus pada pilihan strategi yang di pakai oleh suatu perusahan yang pada kasus ini adlah Starbucks, perusahaan kopi yang berkualitas tinggi yang menawarkan pengalaman minum kopi yang baru dengan kualitas kopi pilihan dan ambience yang mendukung dari tiaptoko-toko yang ada, muali dari desain interior, music maupun keramahan darikaryawan yang bekerja disana. Berikutnya kita akan mengetahui bahwa Starbucksmemakai strategi yang mana dan mana yang paling cocok untuk growth dari perusahaan tersebut yang akan di bahas mendalam dalam paper ini. 


ABSTRAC 

          In this paper focuses on the strategies in use by a coffee company, coffee company offering high quality coffee experience with the new coffee quality and ambience that supports the choice of tiaptoko existing stores, halted from interior design, music and hospitality darikaryawan who worked there. Next we will learn that Starbucksmemakai strategy where and which one is most suitable for the growth of the company which will be discussed in depth in this paper. 




BAB I 

PENDAHULUAN 

1.1 LATAR BELAKANG 

          Budaya minum kopi terutama di pagi hari sangatlah khas kita dengar setiap harinya. Tidak hanya di pagi hari di saat semua orang akan memulai harinya melainkan juga di saat istirahat siang ataupun bersantai sore banyak orang telah memilih kopi untuk menjadi teman menghabiskan waktu. Budaya yang awalnya berasal dari barat ini pun muncul sebagai salah satu kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam kehidupan banyak orang terutama para pencinta kopi. 

          Meningkatnya permintaan akan kopi, memancing munculnya berbagai brand dan kedai-kedai kopi di sekitar kita. Pengunjung kedai-kedai ini pun tidaklah sedikit, begitu pula dengan keuntungan yang didapat oleh produsen. Namun tidaklah semua pengunjung merupakan para penikmat kopi, melainkan hanya mencari suasana atau bahkan untuk menunjukan status sosial. Dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya minum kopi itu sendiri telah berkembang tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan para pencinta kopi saja melainkan pula muncul sebagai trend atau gaya hidup tersendiri. 

1.2 RUMUSAN MASALAH 

          Dari latar belakang masalah, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 

1. Apakah perilaku konsumen mempengaruhi keputusan pembelian terhadap produk coffee? 

2. Factor apakah yang mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk coffe? 


1.3 TUJUAN PENELITIAN 

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh keputusan pembelian terhadap produk coffe. 

2. Untuk mengetahui factor yang mempunyai pengaruh dominan terhadap perilaku konsumen dalam memilih produk coffe. 


1.4 KERANGKA PEMIKIRAN 

          Kerangka pemikiran ini merupakan pengembangan dari model perilaku konsumen Kotler, berikut gambarnya : 

Gambar 1.1 



     Perilaku konsumen ----------------------------|
                                                                 |Keputusan pembelian
     Kualitas produk--------------------------------|     

BAB II

BAB II 

LANDASAN TEORI 


2.1 KERANGKA TEORI 

       Desain struktur organisasi dan seperangkat proses manajemen untuk memperoleh perilaku organisasi yang diperlukan untuk menerapkannya,menggunakan prosedur rasional (Ansoff, 1965; Learned et al, 1969;. Hofer dan Schendel, 1978; Lorange dan Vancil, 1977). 

         Kebutuhan untuk mendapatkan komitmen terhadap suatu strategi (Guth, 1976;Tichy, 1983; Yavitz dan Newman, 1982) tidak secara formal mengatasimasalah intervensi diri tertarik pada bagian dari manajer tingkat menengah distrategis keputusan karena mereka sedang dikembangkan oleh manajemenumum. 

          Ketika struktur tujuan dari semua manajer tingkat menengah benar-benar kongruen dengan struktur tujuan manajemen umum, dan ketika persepsimereka menyebabkan tujuan-terkait / hubungan efek juga sangat kongruenkepada manajemen umum (Thompson, 1967) 

            Individu atau koalisi intervensi tanggapan umum terhadap komitmen yangrendah ke tingkat yang lebih tinggi-keputusan organisasi (Allison, 1971;Ansoff, 1979, MacMillan, 1975, 1978; Tushman, 1977; Bacharach danLawler, 1980a; Pfeffer dan Salancik, 1978; Kanter, 1977). 

           Manajer tampaknya sadar mengintegrasikan kedua praktek formal-analitis dankekuasaan-perilaku untuk meningkatkan baik kualitas keputusan yang dibuat dan efektifitas pelaksanaannya (hal. 45) MacMillan (1978:. Ch 5). 


2.2 PEMBAHASAN 

         Dalam industri coffe shop harus terus berusaha menganalisis pasar supaya dapat memenangkan persaingan yang semakin ketat. Perusahaan harus berfokus kepada konsumen dengan terus berusaha memperbaiki produk dan layanan serta memberikan informasi yang akurat kepada konsumen. Ada beebrapa kendala yang terdapat di pabrik coffe. untuk menarik minat konsumen pabrik coffe membuat beberapa inovasi, mulai dari rasa, kualitas dan kemasan yang baru, sehingga meningkatkan kesetiaan pelanggan sehingga target penjualan dapat tercapai. 

       Identifikasi paling dekat dengan permasalahan tersebut adalah identifikasi minat beli konsumen pada produk-produk yang ditawarkan produk Café. Melalui identifikasi driver problem ( pemicu masalah) penurunan penjualan ini, sangat dimungkinkan penurunan penjualan seperti di tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2001 dan 2002 tersebut probabilitasnya dapat ditekan. 

    Jika dikaji ulang, apapun penyebab terjadinya penurunan penjualan , maka satu hal yang sangat mungkin terjadi yaitu penurunan behavioral intentions konsumen. Menurunnya behavioral intentions ini pada gilirannya juga akan mempengaruhi penurunan minat pembelian konsumen pada produk coffe, hal ini berdasarkan pendapat Prayekti (2001:211) yang mengatakan : “Financial benefits, social benefits , dan structural ties merupakan faktor-faktor pendukung terjadinya interaksi berkelanjutan antara konsumen dan perusahaan . “ 

     Secara teoritis, berdasarkan pendapat yang dipaparkan tersebut, menunujukkan bahwa penurunan behavioral intentions yang sangat dimungkinkan memicu penurunan volume penjualan yang terjadi pada produk coffe di sebabkan karena factor financial benefits, social benefits, dan structural ties. Untuk itu, maka identifikasi terhadap tiga factor yang disebutkan layak untuk diungkapkan. 

2.3 HIPOTESIS 

HO : Perilaku konsumen berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk coffe. 

HA : Perilaku konsumen tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk coffe.

BAB III


BAB III 

METODOLOGI PENELITIAN 


3.1 JENIS DAN SUMBER DATA

          Jenis data yang digunakan adalah data interval, dinyatakan dalam angka mulai dari skala terkecil sampai dengan yang terbesar, selain itu mempunyai jarak yang sama antara angka yang satu dengan angka yang lainnya.

          Sedangkan sumber data yang digunakan adalah bersifat primer. Data diperoleh melalui kuisioner yang disebarkan kepada responden.

3.2 IDENTIFIKASI VARIABEL

          Identifikasi variabel dalam penelitian ini ada 2, yaitu :

1. Perilaku konsumen

2. Keputusan pembelian


3.3 TAHAP PENELITIAN
          Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan CSI, diketahui bahwa nilai kepuasan pelanggan terhadap kinerja produk coffe adalah sebesar 78.69%. Berdasarkan range indeks kepuasan pelanggan, maka 78,69 % berada pada range 60,01% < CSI ≤ 80,00%. Hal ini menunjukkan bahwa indeks kepuasan pelanggan berada pada kriteria puas. Sampai saat ini produk coffe telah mampu memuaskan konsumennya sebesar 78.69%.

BAB IV

BAB IV 

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA 

4.1 DESKRIPSI DATA

          Menganalisis salah satu elemen penting dalam konsep 4P (product, price, place, promotion) yang dituturkan oleh Kothler tentang pemasaran (marketing) adalah Place. Placement atau penempatan yang dimaksud adalah lokasi yang dianggap strategis untuk memasarkan dan menjual produk. 

       Elemen place ini tidak kalah penting dengan elemen-elemen lainnya, memasarkan suatu produk sangat menentukan tingkat penjualan produk dan keberhasilan usaha kita. Lokasi penjualan yang tepat,nyaman dan mudah dijangkau itulah yang diinginkan oleh konsumen. Elemen place ini ditangkap serius pula oleh Starbucks dalam usaha mensukseskan . 


4.2 HASIL PENELITIAN

          Sejalan dengan target tersebut di atas, perusahaan mengharapkan untuk menghasilkan lebih dari $ 4,4 miliar pada kas dari aktivitas operasi dan memiliki $2,4 miliar pada modal kumulatif, yang mengarah ke $ 2 milyar pada arus kas bebaskumulatif dari 2009 hingga 2011. Hal ini di di bandingkan dengan agregat expectedfree cash flow hingga $ 800 juta dari 2006 hingga 2008, berasal dari yang diharapkan$ 3,8 miliar dari kas dari aktivitas operasi dan $ 3 miliar untuk belanja modal.Starbucks mendefinisikan arus kas bebas sebagai kas operasi dikurangi pengeluaranmodal. 

          Perusahaan bermaksud untuk menggunakan kelebihan uang tunai untuk mengembalikan nilai kepada pemegang saham melalui pembelian kembali saham,atau peningkatan nilai melalui investasi peluang baru dengan pengembalian yangdiharapkan yang menarik pada modal.





Tujuan Jangka Panjang produk coffe dalam bentuk Chart

Tujuan Jangka Panjang Coffe Company

Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
Mengoprasikan lebih dari 7.238 retail stores di Amerika Utara dan1.979 di Internasional, peningkatan revenue secara total sebesar 87%. Revenue sebesar $2,4 miliar pada Q4 dan di targetkan mencapai income sebesar $199 juta bila dibandingkan tahun lalu. Profit mencapai $207,9 juta dan kenaikan profit di targetkan naik sebesar 37% bila di bandingkan tahun 2009.


Defensive 

Retrenchment
Pada tahun 2008 melakukan retrenchment di Amerika karena terjadi penurunan segi ekonomi mereka,600 toko tutup dan 12.000 org kehilangan pekerjaan mereka.

Divestiture
Pada bulan agustus mengakuisisi sebuah perusahaan di brasil >Publisher : Thomson M&A, Date: Aug 19 2010 Price : $48.00).

Liquidation
 N/A


4.3 ANALISIS 

          Untuk mengetahui karakteristik responden dan respon konsumen terhadap tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaan. Berdasarkan Gap Analysis didapat bahwa tingkat harapan pelanggan yang paling tinggi adalah pada atribut cita rasa minuman. Tingkat harapan tertinggi pada atribut ini sangatlah wajar dan sesuai dengan tujuan utama yaitu memberikan minuman, dalam hal ini kopi, dengan cita rasa terbaik kepada konsumennya. 

          Sementara itu atribut yang paling tidak diharapkan oleh pelanggan adalah ketersediaan televisi. Atribut dengan tingkat kinerja terendah dapat dilihat pada atribut ketersediaan wifi. Untuk tingkat kinerja tertinggi ada pada atribut ketersediaan cara pembayaran, namun kinerja atribut ini masih belum memenuhi harapan konsumen. 

        Berdasarkan pengolahan terhadap 25 atribut kinerja dengan menggunakan Importance Performance Analysis (IPA), yang berkaitan dengan tingkat kepentingan dan kinerja atribut, terdapat empat atribut yang berada pada kuadran pertama (prioritas utama), yaitu kesigapan pelayan dalam melayani konsumen, harga produk yang ditawarkan, kesejukan ruangan, dan tanggapan terhadap keluhan pelanggan.


BAB V


BAB V

PENUTUP 

5.1 KESIMPULAN

          Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 

1. Perilaku konsumen berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. 

2. Perilaku konsumen mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian. 

3. Kualitas yang luar bisa dalam hal Kopi 

4. Servis yang bagus yang di berikan di setiap toko 

5. Pertumbuhan toko toko kopi baru tiap harinya di seluruh penjuru Dunia. 

          Faktor-faktor ini tidak hanya meningkatkan penjualan tetapi juga reputasi diantara para pecinta kopi. Starbucks menghadapi persaingan yang aggressive di segalaarea di dalam bisnis mereka. Pasar untuk masing-masing segmen bisnis merekaditandai oleh persaingan ketat di antara perusahaan-perusahaan besar dengan posisi yang sudah stabil karena sudah berdiri lama dan sejumlah besar perusahaan berkembang yang baru dengan pertumbuhan yang cepat. 


5.2 SARAN 

1. Untuk meningkatkan keputusan pembelian, disarankan kegiatan promosi yang berupa pemberian inovasi rasa baru harus tetap dilakukan terus agar minat konsumen semakin tinggi dan tertarik untuk membeli. 

2. Untuk meningkatkan keputusan pembelian, disarankan bagi pihak perusahaan untuk selalu berinovasi menciptakan kemasan yang menarik, rasa yang beragam dan harga yang terjangkau. 

3. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambahkan variabel lain seperti harga, pelayanan distributor yang sekiranya dapat memperkuat penelitian ini.

Selasa, 23 Oktober 2012

TEMA

NAMA     : LAILA ZAHIRAH RAHMAH
NPM        : 19210813
KELAS    : 3EA17

TEMA     : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG          MEMPENGARUHI KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP COFFE SHOP.

LATAR BELAKANG MASALAH


LATAR BELAKANG MASALAH

Budaya minum kopi terutama di pagi hari sangatlah khas kita dengar setiap harinya. Tidak hanya di pagi hari di saat semua orang akan memulai harinya melainkan juga di saat istirahat siang ataupun bersantai sore banyak orang telah memilih kopi untuk menjadi teman menghabiskan waktu. Budaya yang awalnya berasal dari barat ini pun muncul sebagai salah satu kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam kehidupan banyak orang terutama para pencinta kopi. 

Meningkatnya permintaan akan kopi, memancing munculnya berbagai brand dan kedai-kedai kopi di sekitar kita. Pengunjung kedai-kedai ini pun tidaklah sedikit, begitu pula dengan keuntungan yang didapat oleh produsen. Namun tidaklah semua pengunjung merupakan para penikmat kopi, melainkan hanya mencari suasana atau bahkan untuk menunjukan status sosial. Dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya minum kopi itu sendiri telah berkembang tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan para pencinta kopi saja melainkan pula muncul sebagai trend atau gaya hidup tersendiri.

ANALISIS JURNAL 1


Analisis Jurnal 1

Judul : Analisis Kepuasan Konsumen The Coffee Bean & Tea Leaf Sudirman Plaza 
Nama pengarang : Vience Maria Fransisca Agustanti
Tahun : 2011

Latar Belakang Masalah.

Di era globalisasi ini gaya hidup masyarakat kota semakin kompleks, dapat kita lihat gaya hidup masyarakat kota yang semakin bervariasi. Sudah merupakan gaya hidup mereka pergi ke salon untuk perawatan dan menghabiskan waktu senggang dengan berjalan-jalan di suatu pusat perbelanjaan, shopping, dan menghabiskan waktu sambil bercengkrama dan menikmati makanan kecil dan minuman di sebuah coffee shop. Dalam memilih sebuah coffee shop, setiap orang mempunyai cara yang berbeda. Orang bisa memilih coffee shop karena tempatnya yang mewah, lokasinya yang strategis, atau karena pelayanannya yang memuaskan.

Sebagian konsumen beranggapan dengan memilih coffee shop yang mewah akan menaikkan image mereka. Sebagian konsumen lain memilih coffee shop yang lokasinya strategis agar mudah dijangkau. Konsumen lainnya akan lebih memilih coffee shop yang pelayanannya memuaskan yang membuat mereka merasa nyaman di dalamnya. Salah satunya adalah The Coffee Bean & Tea Leaf.

Masalah 

The Coffe Bean & Tea Leaf sebagai salah satu perusahaan dalam industri coffe shop harus terus berusaha menganalisis pasar supaya dapat memenangkan persaingan yang semakin ketat. Perusahaan harus berfokus kepada konsumen dengan terus berusaha memperbaiki produk dan layanan serta memberikan informasi yang akurat kepada konsumen. Ada beebrapa kendala yang terdapat di outlet The coffe Bean & Tea Leaf yang berlokasi di Sudirman Plaza, untuk seterusnya disebut dengan Coffe Bean Sudirman Plaza.

Menurut pengelola Coffe Bean Sudirman Plaza, keluhan pelanggan adalah tidak tersedianya area untuk merokok yang disediakan oleh pihak pengelola gedung Sudirman Plaza dan ketidakpuasan pelanggan bila pilihan bila pilihan minuman telah habis terjual. Selain itu, beberapa pelanggan juga mengeluhkan suhu ruangan yang dianggap terlalu dingin atau kepuasan pelanggan merupakan hal yang patut diperhatikan oleh Coffe Bean Sudirman Plaza untuk menarik minat konsumen yang baru dan meningkatkan kesetiaan pelanggan sehingga target penjualan dapat tercapai.

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, menganalisis tingkat kepuasan pelanggan dan merumuskan usulan-usulan perbaikan bagi The Coffee Bean & Tea Leaf Sudirman Plaza agar dapat meningkatkan kepuasan konsumen.

Sumber : Graduate Program of Management and Business – Bogor Agricultural University (MB IPB).

ANALISIS JURNAL 2


Analisis Jurnal 2 

Judul : STARBUCKS STRATEGY, PLEASURE IS EVERYWHERE 

Nama pengarang : Meuthia Zalfyanka 

Tahun : 2011 


Latar belakang masalah 

Budaya minum kopi terutama di pagi hari sangatlah khas kita dengar setiap harinya. Tidak hanya di pagi hari di saat semua orang akan memulai harinya melainkan juga di saat istirahat siang ataupun bersantai sore banyak orang telah memilih kopi untuk menjadi teman menghabiskan waktu. Budaya yang awalnya berasal dari barat ini pun muncul sebagai salah satu kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam kehidupan banyak orang terutama para pencinta kopi. Meningkatnya permintaan akan kopi, memancing munculnya berbagai brand dan kedai-kedai kopi di sekitar kita. Pengunjung kedai-kedai ini pun tidaklah sedikit, begitu pula dengan keuntungan yang didapat oleh produsen. Namun tidaklah semua pengunjung merupakan para penikmat kopi, melainkan hanya mencari suasana atau bahkan untuk menunjukan status sosial. Dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya minum kopi itu sendiri telah berkembang tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan para pencinta kopi saja melainkan pula muncul sebagai trend atau gaya hidup tersendiri. 

Starbucks merupakan kedai kopi yang sangat terkenal di dunia. Jumlah kedai Starbucks telai mencapai lebih dari sepuluh ribu gerai kedai kopi yang tersebar diseluruh dunia. Brand yang berasal dari Amerika ini tidak hanya menawarkan kualitas tinggi di setiap produknya melainkan pula mengedepankan kesenangan para pelanggan melaui service dan atmosfer tempat yang nyaman. Tidak hanya itu, Starbucks juga sangat menjaga kepuasan para pelanggannya. Banyak orang di dunia tidak terkecuali Indonesia telah menjadi penggemar setia brand yang sudah ada sejak tahun 1990 an ini dan tidak segan-segan untuk mengeluarkan uang demi segelas kopi nikmat dari Starbucks setiap harinya. Oleh karenanya tidak heran kalau Starbucks telah menjadi yang terdepan dalam bidangnya.Dalam industri ini, tentulah Starbucks mempunyai saingan dalam usahanya sebagai penyuguh minuman kopi, seperti yang sering kita dengar yaitu Coffe Bean, Dunkin Donnuts, Jco Donnuts, Begawan Solo Cofee dan masih banyak lagi. Menghadapi maraknya persaingan ini, Starbucks tetap berpegang teguh pada statemen yang dikutip dari situs resminya yaitu ”We’re committed to offering our customers the world’s best coffee and the finest coffee experience”, yang tidak lain maksudnya adalah Starbucks selalu menjanjikan kualitas terbaik untuk pelanggan dalam setiap produknya. 

Masalah 

Budaya minum kopi terutama di pagi hari sangatlah khas kita dengar setiap harinya. Tidak hanya di pagi hari di saat semua orang akan memulai harinya melainkan juga di saat istirahat siang ataupun bersantai sore banyak orang telah memilih kopi untuk menjadi teman menghabiskan waktu. Budaya yang awalnya berasal dari barat ini pun muncul sebagai salah satu kebutuhan yang tidak terlepaskan dalam kehidupan banyak orang terutama para pencinta kopi. Meningkatnya permintaan akan kopi, memancing munculnya berbagai brand dan kedai-kedai kopi di sekitar kita. Pengunjung kedai-kedai ini pun tidaklah sedikit, begitu pula dengan keuntungan yang didapat oleh produsen. Namun tidaklah semua pengunjung merupakan para penikmat kopi, melainkan hanya mencari suasana atau bahkan untuk menunjukan status sosial. Dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya minum kopi itu sendiri telah berkembang tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan para pencinta kopi saja melainkan pula muncul sebagai trend atau gaya hidup tersendiri. 

Tujuan penelitian 

Menganalisis salah satu elemen penting dalam konsep 4P (product, price, place, promotion) yang dituturkan oleh Kothler tentang pemasaran (marketing) adalah Place. Placement atau penempatan yang dimaksud adalah lokasi yang dianggap strategis untuk memasarkan dan menjual produk. Elemenplace ini tidak kalah penting dengan elemen-elemen lainnya, memasarkan suatu produk sangat menentukan tingkat penjualan produk dan keberhasilan usaha kita. Lokasi penjualan yang tepat,nyaman dan mudah dijangkau itulah yang diinginkan oleh konsumen. Elemen place ini ditangkap serius pula oleh Starbucks dalam usaha mensukseskan . 


Sumber : 
· Official Site Starbucks Indonesia, www. Starbucks.co.id 
· Kotler, Philip, Marketing Management (11 ed.), (New Jersey: Pearson Education, 2003)

ANALISIS JURNAL 3


Analisis Jurnal 3

Judul : Pengaruh Financial benefits,social bnefits, dan structural ties terhadap Behavioral intentions di Dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya

Nama Pengarang : Ronald Rumui dan Cesilia Maria S.

Tahun : 2005

Latar belakang masalah

Dome Cafe yang ada di Indonesia merupakan sebuah perusahjaan franchise. Dome cafe berpusat di western Australia, berdiri tahun 1983. Melalui manajemen yang terkonsentrasi untuk melakukan ekspansi, perusahaan ini akhirnya berkembang sampai lintas Negara termasuk Indonesia. Di Indonesia , pertama kali perusahaan ini berdiri di Jakarta tahun 1999 (akhir) di Ratu Plaza. Setelah Jakarta, maka Dome Café memperluas jaringan pemasaran dengan membuka gerai baru di Surabaya.
Dilihat daru produk yang di tawarkan , Dome café menawarkan produk- produk makanan dan minuman “ ala barat” seperti sandwich,spaghetti,steak,salad dll. Diantara produk yang ditawarkan yang di unggulkan oleh Dome Café adalah Produk kopi dengan jenis Arabica caffe.

Dengan sejumlah keunggulan yang dimiliki,seperti halnya kualitas produk , lokasi strategis, dan image positif, akhirnya Dome Café mulai berkembang , meskipun terkadang mengalami fluktuasi dalam penjualan .

Masalah

Identifikasi minat beli konsumen pada produk-produk yang ditawarkan Dome Café. Melalui identifikasi driver problem ( pemicu masalah) penurunan penjualan ini, sangat dimungkinkan penurunan penjualan seperti di tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2001 dan 2002 tersebut probabilitasnya dapat ditekan. Jika dikaji ulang, apapun penyebab terjadinya penurunan penjualan di Dome Café ini, maka satu hal yang sangat mungkin terjadi yaitu penurunan behavioral intentions konsumen.

Menurunnya behavioral intentions ini pada gilirannya juga akan mempengaruhi penurunan minat pembelian konsumen di Dome Café, hal ini berdasarkan pendapat Prayekti (2001:211) yang mengatakan : “Financial benefits, social benefits , dan structural ties merupakan faktor-faktor pendukung terjadinya interaksi berkelanjutan antara konsumen dan perusahaan . “

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh Financial benefits, social benefits, dan structural ties secara simultan terhadap behavioral intentions konsumen pada Dome Café di Tunjungan Plaza Surabaya. Untuk mengetahui variable yang berpengaruh dominan diantara variable Financial benefits, social benefits, dan structural ties, terhadap behavioral intentions konsumen pada Dome Café di Tunjungan Plaza.

Sumber : http://rahayu91.wordpress.com/2011/09/30/analisis-jurnal-tahap-2/