BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 KERANGKA TEORI
Desain struktur organisasi dan seperangkat proses manajemen untuk memperoleh perilaku organisasi yang diperlukan untuk menerapkannya,menggunakan prosedur rasional (Ansoff, 1965; Learned et al, 1969;. Hofer dan Schendel, 1978; Lorange dan Vancil, 1977).
Kebutuhan untuk mendapatkan komitmen terhadap suatu strategi (Guth, 1976;Tichy, 1983; Yavitz dan Newman, 1982) tidak secara formal mengatasimasalah intervensi diri tertarik pada bagian dari manajer tingkat menengah distrategis keputusan karena mereka sedang dikembangkan oleh manajemenumum.
Ketika struktur tujuan dari semua manajer tingkat menengah benar-benar kongruen dengan struktur tujuan manajemen umum, dan ketika persepsimereka menyebabkan tujuan-terkait / hubungan efek juga sangat kongruenkepada manajemen umum (Thompson, 1967)
Individu atau koalisi intervensi tanggapan umum terhadap komitmen yangrendah ke tingkat yang lebih tinggi-keputusan organisasi (Allison, 1971;Ansoff, 1979, MacMillan, 1975, 1978; Tushman, 1977; Bacharach danLawler, 1980a; Pfeffer dan Salancik, 1978; Kanter, 1977).
Manajer tampaknya sadar mengintegrasikan kedua praktek formal-analitis dankekuasaan-perilaku untuk meningkatkan baik kualitas keputusan yang dibuat dan efektifitas pelaksanaannya (hal. 45) MacMillan (1978:. Ch 5).
2.2 PEMBAHASAN
Dalam industri coffe shop harus terus berusaha menganalisis pasar supaya dapat memenangkan persaingan yang semakin ketat. Perusahaan harus berfokus kepada konsumen dengan terus berusaha memperbaiki produk dan layanan serta memberikan informasi yang akurat kepada konsumen. Ada beebrapa kendala yang terdapat di pabrik coffe. untuk menarik minat konsumen pabrik coffe membuat beberapa inovasi, mulai dari rasa, kualitas dan kemasan yang baru, sehingga meningkatkan kesetiaan pelanggan sehingga target penjualan dapat tercapai.
Identifikasi paling dekat dengan permasalahan tersebut adalah identifikasi minat beli konsumen pada produk-produk yang ditawarkan produk Café. Melalui identifikasi driver problem ( pemicu masalah) penurunan penjualan ini, sangat dimungkinkan penurunan penjualan seperti di tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2001 dan 2002 tersebut probabilitasnya dapat ditekan.
Jika dikaji ulang, apapun penyebab terjadinya penurunan penjualan , maka satu hal yang sangat mungkin terjadi yaitu penurunan behavioral intentions konsumen. Menurunnya behavioral intentions ini pada gilirannya juga akan mempengaruhi penurunan minat pembelian konsumen pada produk coffe, hal ini berdasarkan pendapat Prayekti (2001:211) yang mengatakan : “Financial benefits, social benefits , dan structural ties merupakan faktor-faktor pendukung terjadinya interaksi berkelanjutan antara konsumen dan perusahaan . “
Secara teoritis, berdasarkan pendapat yang dipaparkan tersebut, menunujukkan bahwa penurunan behavioral intentions yang sangat dimungkinkan memicu penurunan volume penjualan yang terjadi pada produk coffe di sebabkan karena factor financial benefits, social benefits, dan structural ties. Untuk itu, maka identifikasi terhadap tiga factor yang disebutkan layak untuk diungkapkan.
2.3 HIPOTESIS
HO : Perilaku konsumen berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk coffe.
HA : Perilaku konsumen tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk coffe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar