NAMA : LAILA ZAHIRAH RAHMAH
NPM : 19210813
KELAS : 3EA17
TUGAS : METODE RISET
JURNAL 1
PENGARUH
KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA MATAHARI DEPARTEMENT STORE DI
GRAND MALL BEKASI
ABSTRAK
Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis faktor bukti fisik (tangibles), keandalan
(reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati
(empathy) seberapa jauh memiliki asosiasi dengan kepuasan konsumen pada
Matahari Department Store di Grand Mall Bekasi, dan untuk mengetahui faktor
yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan konsumen pada Matahari
Department Store di Grand Mall Bekasi. Data dan sumber data menggunakan data
primer yang berasal dari responden melalui jawaban kuisioner. Teknik
pengumpulan data pada penelitian ini adalah kuesioner, yaitu melalui penyebaran
menyamakan konsumen Toko Matahari Deptartmen di Grand Mall Bekasi. Populasi
dalam jumlah penelitian untuk 1.000 konsumen. Diambil Sampel sebesar 100 orang
Intake Teknik sederhana dilakukan dengan sampling acak. Metode yang digunakan
pada penelitian ini adalah regresi logistik biner (binary regresi logistik).
Uji akurasi model regresi digunakan untuk menilai akurasi regresi model dalam
penelitian ini diukur dengan nilai Chi-Square dengan Hosmer Test dan Lemeshow.
Berdasarkan hasil regresi logistik biner analisis diperoleh bahwa variabel
independen yang terdiri dari bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan,
dan empati berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Dari
hasil B mengharapkan tes atau exp (B) diketahui bahwa kontribusi yang diberikan
oleh variabel adalah empati terhadap kepuasan konsumen yang terbesar
dibandingkan dengan variabel bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, dan
jaminan.
ABSTRACT
This research aims to
analyze evidence physical factor (tangibles), reliability (reliability), responsiveness
(responsiveness), assurance (assurance), and empathy (empathy) how far have
association to with satisfaction of consumer at Matahari Department Store in
Grand Mall Bekasi, and to know most dominant factor in influencing satisfaction
of consumer at Matahari Department Store in Grand Mall Bekasi. Data and source
data use primary data stemming from responder through questioner answer.
Technique data collecting at this research is questioner, that is through
spreading of equate to Matahari Deptartmen Store consumer in Grand Mall Bekasi.
Population in research amount to 1.000 consumer. Taken Sample equal to 100
people Technique Intake of simple conducted with sampling random. Used by
method at this research is binary logistics regression (regression logistic
binary). Test accuracy model regression used to assess accuracy model
regression in this research is measured with Chi-Square value with Test Hosmer
and Lemeshow. Pursuant to result of logistic binary regression analysis
obtained that independent variable consisting of physical evidence, reliability,
responsiveness, assurance, and empathy have an effect on positive and significant
to satisfaction of consumer. From result of B expects test or exp(B) known that
given by contribution is empathy variable to satisfaction of consumer which is
biggest to be compared to physical evidence variable, reliability, responsiveness,
and assurance.
Keywords: quality of
service, satisfaction of consumer, empathy.
A. PENDAHULUAN
Grand
Mall Bekasi merupakan salah satu pusat perbelanjaan di Bekasi dengan jumlah
gerai sebanyak 300 buah. Letak yang strategis dan kelengkapan produk yang
dijual merupakan 2 (dua) alasan utama yang menjadikan Grand Mall Bekasi sebagai
tujuan belanja masyarakat di Bekasi dan sekitarnya. Matahari Department
Store merupakan gerai terluas di Grand Mall Bekasi dengan aneka produk
penjualannya.
Dalam
era perdagangan bebas setiap perusahaan menghadapi persaingan yang ketat.
Meningkatnya intensitas persaingan dan jumlah pesaing menuntut perusahaan untuk
selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen serta berusaha memenuhi
harapan konsumen dengan cara memberikan pelayanan yang lebih memuaskan daripada
yang dilakukan oleh pesaing. Dengan demikian, hanya perusahaan yang berkualitas
yang dapat bersaing dan menguasai pasar.
Kualitas
memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan. Kualitas memberikan
suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan
perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan
untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta kebutuhan mereka. Dengan
demikian, perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan di mana perusahaan
memaksimumkan pengalaman pelanggan yang menyenangkan dan meminimumkan
pengalaman pelanggan yang kurang menyenangkan (Tjiptono, 1996).
Menurut
Schnaars (dalam Tjiptono, 1997) tujuan suatu bisnis adalah untuk menciptakan
para pelanggan merasa puas. Kualitas jasa yang unggul dan konsisten dapat
menumbuhkan kepuasan pelanggan dan akan memberikan berbagai manfaat (Tjiptono,
1996:78) seperti:
1. Hubungan perusahaan dan para
pelanggannya menjadi harmonis;
2. Memberikan dasar yang baik bagi
pembelian ulang;
3. Dapat mendorong terciptanya loyalitas
pelanggan;
4. Membentuk rekomendasi dari mulut ke
mulut (word-of-mouth) yang menguntungkan bagi perusahaan;
5. Reputasi perusahaan menjadi baik di mata
pelanggan; dan
6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.
Kepuasan
pelanggan merupakan respons pelanggan terhadap ketidaksesuaian antara tingkat
kepentingan sebelumnya dan kinerja actual yang dirasakannya setelah pemakaian
(Rangkuti, 2002). Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh persepsi kualitas jasa,
kualitas produk, harga dan faktor-faktor yang bersifat pribadi serta yang
bersifat situasi sesaat. Salah satu factor yang menentukan kepuasan pelanggan
adalah persepsi pelanggan mengenai kualitas jasa yang berfokus pada lima
dimensi kualitas jasa, yaitu: bukti fisik (tangibles), keandalan (reliability),
daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance) , empati (empathy). Berdasarkan
uraian di atas, maka tujuan penelitin ini adalah untuk menganalisis faktor
bukti fisik (tangibles), keandalan (reliability), daya tanggap
(responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy).
Berdasarkan
uraian di atas, maka tujuan penelitin ini adalah untuk menganalisis faktor
bukti fisik (tangibles), keandalan (reliability), daya tanggap
(responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy) sejauhmana
berpengaruh terhadap kepuasan konsumen Matahari Department Store di Grand Mall
Bekasi, dan untuk mengetahui faktor yang paling dominan yang berpengaruh
terhadap kepuasan konsumen di Matahari Department Store di Grand Mall Bekasi.
B. METODE PENELITIAN
1. Kerangka Penelitian
- Bentuk Fisik (X1)
- Keandalan (X2)
- Daya Tanggap (X3)
- Jaminan (X5)
- Empati (X56)
Penelitian
ini menggunakan data primer yang bersumber dari responden yang diambil melalui
kuesioner yang disebarkan kepada konsumen Matahari Deptartmen Store di Grand
Mall Bekasi pada bulan April sampai Juni
2004.
3. Populasi dan Sampel
Populasi
penelitian ini adalah seluruh konsumen Matahari Deparment Store di Grand Mall Bekasi
yang memiliki kartu members, yaitu berjumlah 1.000 konsumen. Mengingat besarnya
jumlah populasi, maka dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel sebesar
100 orang.
Pengambilan
sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling aksidental. Sampling
aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa
saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai
sampel bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber
data (Sugiono, 1999:60).
a. Bukti fisik merupakan fasilitas fisik
dan perlengkapannya termasuk pegawai; diukur dengan kondisi dan lokasi gedung,
interior, dan penampilan pegawai.
b. Keandalan merupakan kemampuan memberikan
pelayanan dengan segera, akurat dan memuaskan; diukur dengan pelayanan tepat
waktu, kemudahan proses pembayaran, ketepatan pelaksanaan program promosi.
c. Daya tanggap merupakan keinginan staf
membantu konsumen dan memberikan pelayanan dengan tanggap; diukur dengan
ketepatan menyelesaikan keluhan, selalu siap membantu konsumen, dan kecepatan
dan ketanggapan dalam pelayanan.
d. Jaminan merupakan pengetahuan,
kemampuan, kesopanan dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki pegawai;
diukur dengan ketrampilan pegawai, pelayanan yang ramah dan sopan, kualitas produk
sesuai promosi, dan pengetahuan pegawai.
e. Empati pelanggan; diukur dengan
perhatian pegawai dengan sungguh-sungguh dan tidak membedakan status sosial
dalam pelayanan merupakan perhatian pribadi, memahami kebutuhan.
Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik
binari (binary logistic regression)
dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut ini:
Dkepuasan = β β0 + β1X1
+ β 2X2 + β3X3 + β 4X4 + β 5X5 + υ υ
Di mana Dkepuasan konsumen
yang merasa puas, sedangkan nilai 0 adalah konsumen yang merasa tidak puas).
Dalam model ini variabel-variabel prediktor yang digunakan adalah bukti fisik
(X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan ( X4 ), dan empati (X5).
Berdasakan
pertimbanganstudi empris sebelumnya, untuk menentukan sejauh mana suatu kepuasan konsumen
terkonsentrasi pada suatu rasa puas dan rasa tidak puas, maka studi ini
menggunakan variable hasil penilaian kepuasan konsumen diklasifikasikan (Yir).
Variabel ini diperoleh berdasarkan jawaban angket.
Uji
ketepatan model regresi digunakan untuk menilai ketepataan model regresi dalam
penelitian ini diukur dengan nilai chi-square dengan uji Hosmer and Lemeshow.
Pengujian ini dengan melihat nilai goodness of fit test yang diukur dengan
nilai chi square pada tingkat signifikansi 5%.
Keputusan
penerimaan hipotesis didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut:
H0 = model yang
dihipotesiskan fit dengan data;
HA = model yang
dihipotesiskan tidak fit dengan data
.
Untuk
menguji hipotesis digunakan model Lemeshow’s goodness of fit test, jika nilai
Hosmer and Lemeshow’s goodness of fit test statistik sama dengan atau kurang
dari 0,05. Artinya, hipotesis nol ditolak yang berari ada perbedaan signifikan
antara model dengan nilai observasinya, yang goodness fit model tidak baik,
karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. (Ghozali, 2001:218).
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tabel
1
Uji
Koefisien Regresi Binary Logistic
Variabel
|
B
|
Wald
|
P
|
Konstanta
|
-63,140
|
20,040
|
0,000***
|
Bukti
fisik (buk_fik)
|
0,475
|
6,387
|
0,011**
|
Keandalan
(andal)
|
0,525
|
5,462
|
0,019**
|
Daya
tanggap (tanggap)
|
0,792
|
7,369
|
0,007***
|
Jaminan
(jamin)
|
0,607
|
9,107
|
0,003***
|
Empati
(empati)
|
0,912
|
7,594
|
0,006***
|
Sumber:
diolah dari data primer.
Hasil
pengujian model regresi binary logistic dengan variable dependen kepuasan
konsumen (Y) diperoleh persamaan sebagai berikut.
Y= -63,140+ 0,475buk_fik
+ 0,525andal + 0,792tanggap + 0,607jamin + 0,912empati
(6,387) (5,462) (7,369) (9,107) (7,594)
Keterangan:
( ) = Menerangkan nilai valid
*** = Signifikan pada 1%
** = Signifikan pada 5%
Persamaan di atas dapat
ditafsirkan bahwa kelima dimensi kepuasan konsumen yaitu variabel bukti fisik,
keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati berpengaruh positif terhadap
kepuasan konsumen.
2. Uji Ketepatan Model Regresi
Uji
ketepatan model regresi binary logistic dengan uji Hosmer and Lemeshow
diperoleh nilai chi square =11,651 dengan level keyakinan sebesar 0,167. Angka
tersebut lebih besar dari 0,05 atau 5 persen maka Ho diterima. Hal ini berarti
model regresi binary logistic dengan variable dependen kepuasan konsumen adalah
sesuai dengan data sehingga layak dipakai untuk analisis selanjutnya.
a. Uji Koefisien Regresi
Uji
signifikansi pengaruh variabel bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan,
dan empati terhadap kepuasan konsumen. Dari hasil analisis regresi binary
logistic diketahui bahwa semua variabel independen berpengaruh signifikan
terhadap variabel kepuasan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dari nilai
signifikansi Wald < 0,05 atau 5 persen.
b. Uji Ekspektasi B
Tabel
2
Uji
Ekspektasi B
Variabel Independen
|
Nilai Exp (B)
|
Buk_fik
|
1,608**
|
Andal
|
1,691**
|
Tanggap
|
2,207**
|
Jamin
|
1,835**
|
empati
|
2,489**
|
Sumber:
diolah dari data primer.
Keterangan:
** = Signifikan pada α
=0,05
Melihat
besarnya nilai ekstektasi B atau nilai Exp (B) di atas, menunjukkan bahwa
variabel empati mempunyai pengaruh yang lebih besar (nilai Exp (B) = 2,489)
terhadap kepuasan konsumen dibandingkan variabel bukti fisik, keandalan, daya
tanggap, dan jaminan. Hal ini menunjukkan bahwa variabel empati memberikan kontribusi
yang paling besar dibandingkan variabel lain.
Berdasarkan
hasil semua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel
kepuasan konsumen. Menurut prediksi konsumen yang merasa tidak puas dengan kode
nol (0) adalah 40 responden, sedangkan observasi hanya 35. Jadi ketepatan klasifikasi
87,5% (35/40), sedangkan prediksi konsumen yang merasa puas dengan kode satu
(1) ada 60 responden, sedangkan hasil observasi hanya 58. jadi ketepatan
klasifikasi 96,7% (58/60) atau secara keselurahan ketepatan klasifikasi adalah
93%.
D. PENUTUP
Berdasarkan
hasil analisis regresi binary logistic diperoleh bahwa variabel independen yang
terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Hasil uji
koefisien regesi diperoleh bahwa semua variable independen yang terdiri dari
bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati signifikan terhadap
kepuasan konsumen. Dari hasil uji ekspektasi B atau Exp (B) diketahui bahwa
kontribusi yang diberikan variabel empati terhadap kepuasan konsumen yang
paling besar dibandingkan variabel bukti fisik, keandalan, daya tanggap, dan
jaminan. Hal ini besarnya nilai Exp (B) = 2,489 yang paling besar dari nilai
Exp (B) variable yang lain. Hal ini juga dapat dilihat dari besarnya nilai
koefisien beta variabel empati paling besar yaitu 0,912.
Penelitian
ini mempunyai beberapa keterbatasan yaitu dalam pemilihan variabel yang seperti
disebutkan dalam penelitian ini, hal tersebut disebabkan masih terbatasnya
penelitian yang menganalisis pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan
konsumen. Kepuasan konsumen yang diteliti dalam penelitian ini terbatas hanya
pada satu tempat, sehingga peneliti tidak melakukan uji perbandingan kepuasan
konsumen lebih dari satu tempat penelitian.
Untuk
meningkatkan kepuasan konsumen Matahari Departemen Store di Grand Mall Bekasi perlu adanya tindakan antara lain:
1. Saran untuk perusahaan
a. Dikarenakan
empati adalah faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi tingkat kepuasan
konsumen, maka disarankan kepada seluruh pegawai untuk lebih memperhatikan
pendekatan individu dengan konsumen, sehingga dapat terjadi hubungan emosional
yang baik dengan konsumen. Rasa tanggap terhadap kebutuhan konsumen harus
dimiliki oleh setiap pegawai sehingga konsumen tidak perlu dimiliki oleh setiap
pegawai sehingga konsumen tidak perlu repot-repot menanyakan barang yang
diinginkan, tetapi karyawan telah menyediakan konsumen lebih ditingkatkan
dengan sebelum konsumen menanyakannya. Pelayanan lebih ditingkatkan dengan
tidak membedakan status sosial.
b. Meningkatkan
kondisi gedung Matahari Departemen Store yang bersih, nyaman dengan interior
yang menarik, melengkapi fasilitas pendukung menjaga penampilan dan ketrampilan
pegawai.
c. Meningkatkan
pelayanan yang tepat waktu, kemudahan pembayaran di kasir yang dapat dilakukan
secara cash atau menggunakan kartu kredit dan kartu ATM, program promosi
(diskon, program pada event-event tertentu) dilaksanakan sesuai program yang
diadakan, fasilitas kartu member/anggota (MCC) dapat digunakan fungsinya
(mendapatkan poin untuk kemudian dapat ditukar dengan voucer belanja).
d. Meningkatkan
kecepatan pegawai dalam menanggapi permintaan konsumen, selalu bersedia
membantu kesulitan konsumen, menyelesaikan keluhan konsumen dengan tepat,
memberikan informasi dengan jelas sesuai
dengan kebutuhan konsumen.
e. Meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan dalam menangani keluhan konsumen, memberikan
pelayanan dengan ramah dan sopan, kualitas produk yang dijual sesuai dengan
yang dipromosikan, harga yang terpasang pada produk sesuai dengan harga yang
dibayarkan.
JURNAL 2
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA SUPERMARKET INDOGROSIR DI YOGYAKARTA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pada masa sekarang ini, di abad 21, pola hidup
masyarakat Indonesia semakin maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang
begitu pesat seiring dengan perkembangan jaman. Pengaruh perkembangan tersebut
sangat nyata, misalnya terciptanya fasilitas-fasilitas yang memudahkan
kegiatannya sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut.
Salah satu dampak dari perkembangan teknologi
tersebut adalah semakin banyak berkembang pasar swalayan ataupun supermarket,
pusat pembelanjaan yang semakin banyak menawarkan kemudahan, kenyamanan dan
keamanan bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara mudah dan
efisien. Dengan banyaknya pusat perbelanjaan yang didirikan maka persaingan
antar pusat perbelanjaan semakin tinggi, yang menyebabkan anggota masyarakat
atau konsumen ingin dilayani lebih baik lagi, sesuai apa yang diinginkan bagi
pemenuhan kebutuhan lainnya. Hal ini membuat beban pemasaran semakin berat,
karena tugas dari pemasaran merupakan fungsi paling penting dari perusahaan.
(Sofyan Assauri, 1992; 6).
Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat,
suatu perusahaan perlu memahami perilaku konsumen agar perusahaan mampu
bersaing dengan perusahaan lainnya. Pemahaman tentang perilaku konsumen itu
mempunyai arti penting karena sesungguhnya semua kegiatan perusahaan ditujukan
untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Perusahaan retail tentunya sadar
bahwa dalam era globalisasi pemasaran merupakan kunci dan faktor penting untuk
mencapai sukses. Pemasaran memusatkan perhatian pada konsumen karena dengan
tercapainya kebutuhan dan kepuasan konsumen akan memberikan keuntungan yang
layak dalam jangka panjang. Tujuan kegiatan pemasaran itu sendiri adalah
mempengaruhi konsumen untuk membeli barang dan jasa perusahaan pada saat itu
yang mereka butuhkan. Sedangkan pemasaran menurut William J. Stanton (1985)
didefinisikan sebagai berikut:
“Suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang
ditujukan untuk merencanakan menentukan harga, mempromosikan dan
mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli
yang ada maupun pembeli potensial.” (Stanton, 1985;7)
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya
(Philip Kotler,1995;46)
Harapan konsumen atau pembeli biasanya dibentuk oleh
pengalaman pembelian terdahulu, komentar teman serta janji atau informasi
pemasaran dan saingannya. Untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan
tersebut, banyak usaha bisnis kecil-kecilan (usaha pertokoan) berubah menjadi
usaha bisnis yang lebih besar (swalayan atau supermarket)
Supermarket merupakan took yang menyediakan
kebutuhan-kebutuhan konsumen baik untuk jenis makanan dan non-makanan yang
dijual secara rutin sehingga konsumen lebih mudah untuk memenuhi kebutuhannya.
Pada dasarnya sukses tidaknya suatu bisnis
bergantung pada apakah kita cukup memberikan perhatian terhadap apa yang
dibutuhkan dan diinginkan orang yang menjadi sasaran bisnis kita. Untuk itu
seorang manajer harus selalu inovasi terus menerus dan menerapkan strategi
yang menetap agar bsinis tersebut dapat berkembang dengan baik. Selain itu
untuk meningkatkan kualitas dan memperluas permintaan pasar, manajer diharapkan
mampu melaksanakan strategi marketing mix-nya. Sedangkan
strategi marketing mix menurut Basu Swastha dan Irawan (1990)
didefinisikan sebagai berikut:
“Strategi marketing mix adalah kombinasi dari empat
kegiatan yang merupakan inti dari system pemasaran perusahaan, produk,
struktur harga, kegiatan promosi, dan system distribusi. (Swastha dan Irawan,
1990; 78)”
Dalam kondisi perekonomian sekarang ini kegiatan
pemasaran mempunyai peranan yang sangat sesuai dengan fungsi pemasaran yang
merupakan salah satu fungsi pokok yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk
dapat berkembang dan mendapatkan laba yang maksimal.
Melihat pentingnya peranan sikap konsumen dalam
mengambil keputusan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya agar dapat
terpuaskan, maka penulis tertarik untuk membuat skripsi dengan judul:
“Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Pada SUPERMARKET INDOGROSIR Di
Yogyakarta”
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sikap konsumen
terhadap Supermarket Indogrosir
2. Apakah ada perbedaan sikap
antara konsumen akhir dan konsumen pedagang dalam belanja di
Supermarket
Indogrosir
C. Batasan Masalah
Untuk memudahkan pembahasan dari penelitian
diperlukan batasan masalah yang meliputi:
1. Penelitian ditujukan pada konsumen
akhir dan konsumen pedagang, baik pembeli aktual maupun pembeli potensial yang
bertempat tinggal di Yogyakarta.
2. Melihat pada keadaaan sebelum
melakukan survey terhadap responden, dapat dilihat bahwa hal-hal yang dijadikan
sebagai evaluasi konsumen terhadap supermarket adalah harga, tata letak,
kenyamanan berbelanja, tersedianya produk yang lengkap, kemudahan parker,
lokasi yang mudah dicapai dan pelayanan supermarket tersebut. Oleh karena itu
dalam penelitian ini, setiap konsumen pada Supermarket Indogrosir akan diukur
dari faktor:
a. Harga
b. Layout/Tata letak
c. Kenyamanan
d. Kelengkapan produk
e. Tempat Parkir
f. Lokasi Gedung
g. Pelayanan
D. Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan singkat yang merupakan
jawaban sementara terhadap masalah yang diteliti serta masih perlu
diuji kebenarannya. Hipotesis perlu diuji, maka dari itu diperlukan sejumlah
data baik yang mendukung maupun yang bertentangan dengan hipotesis. Data
tersebut akan diolah dengan membuktikan perhitungan statistik guna memperoleh
kesimpulan-kesimpulan untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Dalam penelitian
ini hipotesis yang diajukan penulis sebagai berikut:
1. Sikap konsumen terhadap
Supermarket Indogrosir adalah positif.
2. Tidak ada perbedaan sikap
antara konsumen akhir dengan konsumen pedagang dalam berbelanja ke Supermarket
Indogrosir.
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulis mengadakan penelitian dengan
judul di atas adalah:
1. Mengetahui
sikap konsumen terhadap Supermarket Indogrosir
2. Untuk
mengetahui perbedaan sikap antara konsumen akhir dengan konsumen pedagang dalam
belanja di Supermarket Indogrosir.
F. Manfaat
Penelitian
Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah:
1. Bagi
Perusahaan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
pertimbangan dalam perencanaan, aktivitas dan kebijakan pemasaran, sehingga
dapat memberikan hasil yang lebih baik di masa yang akan datang.
2. Bagi Peneliti
Penelitian ini sebagai sarana belajar dan masukan
bagi penulis dalam menerapkan teori pemasaran yang telah dipelajari terhadap
kasus nyata yang relevan di perusahaan.
G. Metode
Penelitian
1. Populasi
Populasi yang diteliti adalah masyarakat Yogyakarta
yang pernah atau sedang berbelanja di Supermarket Indogrosir.
2. Sampel
Dalam penelitian sampel dilakukan dengan cara quota
sampling, yaitu sampel dibagi menjadi dua bagian dari 200 sampel yaitu 100
sampel untuk konsumen pedagang dan 100 sampel untuk konsumen akhir.
3. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini meliputi:
a. Data
primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan diusahakan sendiri
oleh peneliti, dalam hal ini perusahaan diamati dan dicatat pertama kalinya.
b. Data sekunder
yaitu data yang diperoleh dari pihak lain yang tidak berhubungan dengan
perusahaan, seperti buku-buku dan majalah.
4. Metode
Pengumpulan Data
Data-data tersebut di atas untuk mendapatkannya
digunakan dengan cara sebagai berikut:
a. Metode
Kuisioner
Metode kuisioner yaitu metode pengumpulan data yang
dilakukan dengan meminta keterangan pada pihak yang mempunyai keterangan
(responden) dengan cara menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun oleh
penulis.
b. Metode
Wawancara
Metode wawancara yaitu menggunakan data dengan
mengadakan tanya jawab secara langsung kepada pihak-pihak yang dianggap perlu
dan berhubungan erat dengan obyek penelitian.
c. Metode
Observasi
Metode observasi yaitu mengadakan pengamatan secara
langsung pada perusahaan.
H. Metode
Analisis Data
Metode yang digunakan untuk menganalisa data masukan
dalam penelitian menggunakan berbagai cara yang dijelaskan seperti berikut:
1. Analisa
Kuantitatif
Analisa kuantitatif adalah analisa yang didasarkan
pada logika dan tidak dijelaskan berdasarkan angka-angka yang didapatkan dengan
suatu pengujian hipotesis, tetapi dijelaskan secara deskriptif berdasarkan
data-data yang ada.
2. Analisa
Kualitatif
a. Uji
Validitas
Validitas adalah alat ukur yang menunjukkan
seberapa jauh alat ukur itu bisa mengukur apa yang seharusnya bisa
diukur. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan korelasi product moment, yaitu dengan membandingkan koefisien
korelasi (rx,y) dengan r-tabel. Suatu alat ukur dinyatakan valid
apabila nilai r (x,y) lebih besar daripada r-tabel. (Sugiyono dan
Wibowo, 2002, 233)
Adapun rumus untuk mendapatkan koefisien korelasi
adalah sebagai berikut: (Subagyo, 1992,65)
Dimana:
r = koefisien korelasi
x = variabel nilai sampel
independen
y = variabel skor rata-rata
b. Uji
Reliabilitas
Reliabilitas (keandalan) digunakan untuk menguji dan
menunjukkan seberapa jauh skor observasi bebas dari kesalahan acak. Pengujian
reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronbach’s Alpha. Suatu alat
dinyatakan reliabel apabila nilai Crobnbach’s Alpha yang diperoleh lebih besar
dari nilai r-tabel (Sugiyono dan Wibowo, 2003; 233)
c.
Analisis Sikap Fishbhein Attitude Method
Analisis ini digunakan untuk mengetahui sikap
individu terhadap suatu obyek. Rumus yang digunakan adalah:
Dimana:
Ao = sikap seseorang secara keseluruhan
terhadap obyek tertentu
bi = kepercayaan seseorang
terhadap atribut (i) yang dimiliki suatu obyek.
ei = penilaian atau
evaluasi seseorang terhadap atribut (i) yang ada pada suatu objek.
n = jumlah atribut
Di dalam analisis ini akan digunakan untuk
menghitung bagaimana kepercayaan dan penilaian konsumen terhadap atribut. Untuk
itu digunakan skala klasifikasi skor dengan gambaran sebagai berikut:
Jika posisi Ao diantara 1 – 5,8 = Sangat Tidak Baik
(1)
Jika posisi Ao diantara 5,8 – 10,6 = Tidak Baik (2)
Jika posisi Ao diantara 10,6 – 15,4 = Kurang Baik
(3)
Jika posisi Ao diantara 15,4 – 20,2 = Baik (4)
Jika posisi Ao diantara 20,2 – 25 = Sangat Baik (5)
d. Analisis Uji
Beda
Untuk uji ini akan digunakan uji Mann-Whitney U,
yaitu uji yang digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan sikap antara
konsumen akhir dengan pedagang dalam berbelanja ke Supermarket Indogrosir.
Adapun langkah-langkah pengujian Mann-Whitney U adalah sebagai berikut:
-
Kriteria pengambilan keputusannya adalah:
U ≥ Uα = Ho diterima dan menolak Ha
U < Uα = Ho ditolak dan menerima Ha
-
Gabungkan kedua sampel independen dan beri jenjang tiap-tiap anggotanya mulai
dari nilai yang terkecil sampai yang terbesar
-
Hitung jenjang masing-masing bagi sampel pertama dan kedua dan notasikan dengan
R1 dan R2.
-
Kemudian untuk pengujian statistik, dihitung:
Dimana:
n1 = jumlah sampel 1
n2 = jumlah sampel 2
U1 = jumlah peringkat 1
U2 = jumlah peringkat 2
R1 = jumlah ranking pada sampel n1
R2 = jumlah ranking pada sampel n2
-
Dari kedua nilai U tersebut, maka yang digunakan adalah nilai U yang lebih
kecil. Nilai U yang lebih besar dinotasikan sebagai U’. Sebelum pengujian dilakukan,
perlu diperiksa apakah telah didapatkan nilai U atau U’ dengan cara
membandingkannya dengan n1n2 / 2. Bila nilainya
lebih besar daripada n1n2 / 2, maka nilai tersebut
adalah U’ (U yang lebih besar). Dan nilai U dapat dihitung dengan rumus:
U = n1n2 – U’
-
Bandingkan nilai U yang didapat dari perhitungan diatas dengan nilai U yang ada
di dalam tabel (untuk n1dan n2 yang lebih kecil dari
20).
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. Teori Pemasaran
Pemasaran merupakan konsep menyeluruh yang
menyangkut berbagai kegiatan pemasaran yang tercakup dalam satu sistem
pemasaran. Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh
pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk
berekembang dan mendapatkan laba. Pemasaran merupakan proses yang bertujuan
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Pemasaran telah dipandang
sebagai unsur penting didalam mendirikan dan membina perusahaan-perusahaan.
Dengan lingkungan dunia usaha yang semakin kompetitif dan sifat pasar berubah
dari sales market menjadi buyer market atau kekuatan pasar ditangan konsumen.
Sehingga kegiatan perusahaan mengalami penyesuaian dari orientasi produksi
menjadi orientasi konsumen.
Pemasaran tidak terbatas pada dunia bisnis
saja, karena sebenarnya setiap hubungan antar individu dan antar organisasi
yang melibatkan proses pertukaran adalah kegiatan pemasaran.
Banyak sekali definisi pemasaran yang dikemukakan
oleh para ahli, meskipun berbeda-beda tetapi pada dasarnya mempunyai arti yang
sama. Perbedaan tersebut karena perbedaan sudut pandang saja. Untuk memperjelas
pengertian pemasaran, maka berikut ini dikemukakan beberapa pendapat para ahli.
1. Philip Kotler
“Pemasaran adalah proses sosial dan managerial
dengan mana seseorang atau kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai. (Kotler, 1986 :
5)”
2. William J. Staton
“Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari
kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan
baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.” (Stanton, 1986 : 7)
Dari definisi-definisi di atas dapat di tarik
kesimpulan bahwa pemasaran mempunyai arti sebagai berikut:
1. Pemasaran merupakan
suatu proses yang dilakukan individu maupun kelompok.
2. Adanya proses
pertukaran arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen.
3. Adanya keinginan
dan kebutuhan manusia yang harus dipuaskan oleh kegiatan manusia lain yang
menghasilkan alat pemuas tersebut yang berupa produk barang dan jasa.
4. Pemasaran merupakan
suatu kegiatan yang terintegrasi secara dinamis, dalam arti bahwa pemasaran
merupakan hasil dari berbagai macam kegiatan.
Memilih dan melaksanakan kegiatan pemasaran yang
dapat membantu dalam pencapaian tujuan perusahaan serta beradaptasi dengan
lingkungan adalah merupakan tujuan seorang manajer pemasaran. Manajemen
pemasaran mempunyai proses untuk mempengaruhi tingkat, jangkauan waktu dan
komposisi permintaan dengan cara hingga membantu perusahaan mencapai
sasarannya.
Philip Kotler mendefinisikan manajemen pemasaran
sebagai berikut:
“Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan,
penerapan dan pengawasan terhadap program yang telah dirancang untuk menciptakan,
membangun dan mempertahankan pertukaran dan hubungan yang menguntungkan dengan
pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. (Kotler,
1986;20)”
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa fungsi
manajemen pemasaran mencakup proses yang melibatkan penganalisaan, perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Kegiatan
tersebut bertujuan menimbulkan pertukaran yang diinginkan, baik yang menyangkut
kebutuhan psikologi, sosial dan kebudayaan yang dapat disesuaikan dengan sikap
dan perilaku konsumen.
Bagi perusahaan untuk mendapatkan kelangsungan
hidupnya untuk berkembang dan memperoleh keuntungan pemasaran menjadi salah
satu kegiatan yang terpenting. Perusahaan yang menitik beratkan usahanya untuk
mencapai sukses dalam jangka panjang. Falsafah tersebut disebut konsep
pemasaran.
Semua kegiatan perusahaan harus dicurahkan untuk
mengetahui apa yang menjadi kegiatan konsumen dan kemudian memuaskan
keinginan-keinginan tersebut.
Di dalam konsep pemasaran diajarkan bahwa kegiatan
pemasaran suatu perusahaan harus dimulai dengan usaha mengenal dan merumuskan
keinginan dan kebutuhan dari konsumen. Kemudian perusahaan menyesuaikan
kegiatannya agar dapat memuaskan kebutuhan konsumen dengan cara efektif dan
efisien. Maksud dari efektif dan efisien disini adalah dalam pemenuhan
kebutuhan konsumen harus tepat sasaran dan tepat waktu, yaitu apa yang
diinginkan konsumen dan kapan konsumen menginginkannya.
Definisi konsep pemasaran menurut Philip Kotler:
“Konsep pemasaran adalah sebuah upaya pemasaran
terkoordinasi yang berfokus pada pasar dan berorientasi pada pelanggan dengan
tujuan memberikan kepuasan pada pelanggan sebagai kunci untuk mencapai tujuan
organisasi. (Kotler, 1997, 17)”
Dari definisi konsep di atas diperoleh empat
komponen utama yang melandasi konsep pemasaran, yaitu:
1.
Fokus pasar
Perusahaan harus dapat membatasi dan menentukan
pasarnya yang akan menjadikan sasarannya karena kenyataannya tidak ada
perusahaan yang sanggup melaksanakan semua kegiatannya disemua pasar dengan
memenuhi kebutuhan pelanggan.
2.
Orientasi pada pelanggan
Perusahaan harus berorientasi pada pelanggan bukan
berorientasi pada perusahaan, hal ini untuk memberikan pelayanan yang terbaik
pada konsumen dapat menimbulkan rasa loyalitas konsumen terhadap pelanggan.
3.
Pemasaran terpadu
Kegiatan perusahaan harus dikoordinasi dengan baik
dengan bagian-bagian lain dari perusahaan untuk berusaha memberikan kepuasan
kepada konsumen.
4.
Kemampulabaan
Melalui konsep pemasaran perusahaan harus berusaha
membina hubungan baik dengan konsumen, sehingga tercipta hubungan timbal balik
yang menguntungkan. Perusahaan tidak dituntut untuk dapat menjual barang dan
jasa yang diproduksi melainkan untuk memproduksi barang dan jasa yang dapat
dijual.
Jadi dengan konsep pemasaran perusahaan menjajaki
apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh konsumen kemudian mengembangkan produk
yang akan memuaskan keinginan konsumen dan sekaligus memperoleh laba, namun
dengan perkembangan teknologi dan masyarakat telah menyebabkan perkembangan
konsep pemasaran pula.
Sekarang perusahaan dituntut untuk dapat menanggapi
tekanan-tekanan dari luar, ketidakpuasan konsumen, perhatian pada
masalah-masalah lingkungan dan kekuatan-kekuatan politik yang legal. Perusahaan
tidak lagi berorientasi pada konsumen saja, tetapi juga harus berorientasi pada
tanggung jawab sosial. Konsep pemasaran dan tanggung jawab sosial sebuah
perusahaan yang berjalan dengan selaras ini disebut konsep pemasaran masyarakat
(Social marketing concept). Agar konsep pemasaran dan tanggung jawab sosial
dapat berjalan dengan selaras, pihak manajemen harus berupaya keras dalam
program jangka panjangnya membuat keseimbangan untuk:
1.
Memuaskan keinginan konsumen pembeli produk
2.
Memuaskan keinginan masyarakat yang terpengaruhi oleh kegiatan perusahaan
3.
Mencapai tujuan mendapat laba perusahaan.
Perubahan situasi dan kondisi yang terus menerus
terjadi dalam masyarakat membawa konsekwensi pada perubahan konsep pemikiran
dari waktu ke waktu. Orientasi perusahaan mencerminkan adaptasi perusahaan
terhadap perubahan situasi dan kondisi tersebut,
Adapun
tahap-tahap perkembangan konsep pemasaran sebagai berikut: (Swastha, 1997; 17)
1.
Konsep Produksi
Konsep ini mengemukakan bahwa pelanggan akan
memahami produk-produk yang tersedia secara luas dan harganya murah, maka
manajemen harus berkonsentrasi pada peningkatan efisiensi produksi dan
distribusi.
2.
Konsep Produk
Konsep ini berpendapat bahwa para konsumen akan
menyukai produk-produk berkualitas, penampilan, ciri-ciri terbaik, maka
organisasi harus mencurahkan upaya terus menerus dalam perbaikan produk.
3.
Konsep Penjualan
Konsep ini berpendapat bahwa konsumen jika dibiarkan
sendiri, biasanya tidak akan membeli produk-produk dari organisasi perusahaan
tersebut, maka perusahaan harus melakukan kegiatan penjualan yang agresif dan
usaha promosi yang gencar.
4.
Konsep Pemasaran
Konsep pemasaran ini berpendapat bahwa kunci untuk
mencapai tujuan-tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan
keinginan pasar sasaran dan penyerahan produk yang memuaskan secara lebih
efektif dan efisien dibanding pesaing.
5.
Konsep Pemasaran Sosial
Konsep ini berpegang pada anggapan bahwa tugas
perusahaan adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan minat dari pasar sasaran
serta memberi kepuasan dengan cara yang lebih efisien dan efektif daripada
pesaing, sehingga dapat menjamin atau mendorong kesejahteraan dan masyarakat.
B. Perilaku
Konsumen
Karena perilaku konsumen sangat heterogen maka
mereka perlu disegmentasikan yang relatif mempunyai kebutuhan dan keinginan
yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat biaya, waktu dan energi.
Selanjutnya diharapkan program pemasaran yang dirancang akan mengenai sasaran
hingga tujuan pemasaran dapat tercapai berupa meningkatkan volume penjualan
pangsa pasar dan laba penjualan. Hingga segmentasi pasar dapat didefinisikan
sebagai berikut:
Segmentasi pasar membagi pasar menjadi
segmen-segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai
dengan marketing mix tertentu. (Swastha dan Handoko, 192; 118-119)
Jadi latar belakang dan alasan dilakukannya
segmentasi pasar adalah:
1.
Konsumen selalu bersifat heterogen, perlu diketahui keinginan dan kebutuhan
guna memenuhi keinginan dan kebutuhan dengan baik.
2.
Pemilihan target seluruh pasar setelah akan diadakan segmentasi pasar akan
berpengaruh sangat kuat terdapat potensi penjualan dan laba penjualan.
3.
Pemilihan target pasar yang akan berpengaruh langsung terhadap berat tidaknya
pesaing yang harus dihadapi di dalam segmen yang terpilih.
4.
Strategi perusahaan yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan
masyarakat, justru akan berakibat kegagalan pemasaran.
Seorang pemasar harus mencoba membedakan variabel
segmentasi secara tunggal dan secara kombinasi dengan harapan untuk mendapatkan
cara yang bermanfaat guna melihat struktur pasar.
Pembagian pasar dalam segmen-segmen pasar sangat
dipengaruhi oleh tipe produk, sifat permintaan, cara penjualan dan motivasi
pembelian konsumen. Banyak variabel-variabel yang dapat dijadikan dasar untuk
segmentasi pasar.
Adapun dasar-dasar yang dapat dipakai untuk
segmentasi pasar adalah:
1.
Segmentasi geografis
Segmentasi geografis dilakukan dengan cara membagi
pasar menjadi unit-unit geografis, misalnya negara, propinsi, kabupaten, kota
dan sebagainya.
2.
Segmentasi demografis
Segmentasi ini memisahkan pasar ke dalam
kelompok-kelompok yang berdasarkan pada variabel demografis, seperti umur,
jenis kelamin, besarnya keluarga, siklus, pendapatan, pendidikan, agama, ras,
dan lain-lain.
3.
Segmentasi psikologis
Pada jenis segmentasi psikologis, konsumen dibagi
dalam beberapa kelompok yang berlainan menurut kelas, gaya hidup atau berbagai
ciri kepribadian.
4.
Segmentasi perilaku
Bila perilaku dipakai sebagai variabel utama dalam
segmentasi pasar dalam konsumen, maka para konsumen dibagi menjadi beberapa
kelompok menurut tingkat pengetahuan, sikap, penggunaan atau tanggapan terhadap
produk tertentu.
Dapat disimpulkan bahwa strategi segmentasi pasar
dimulai dengan mengenal perilaku konsumen, untuk menentukan konsumen mana yang
dituju perusahaan sebagai sasaran penjualan dan menentukan kebutuhan serta
keinginan kelompok konsumen tersebut yang akan dipenuhi dan dipuaskan. Dan
dengan segmentasi pasar dapat mengarahkan atau memusatkan kegiatan pemasarannya
untuk mempengaruhi perilaku konsumen dari segmen pasar yang dituju.
Memahami perilaku konsumen dari pasar sasaran
merupakan tugas dari manajemen pemasaran, berdasarkan konsep pemasaran.
Konsumen sangat beraneka ragam menurut usia, pendapatan, tingkat pendidikan,
pola perpindahan tempat dan selera. Sangat penting bagi pemasaran untuk
membeda-bedakan kelompok konsumen yang memang berbeda dan mengembangkan produk
dan jasa yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen itu.
Untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan
konsumen agar dapat terpuaskan, maka pihak manajemen harus dapat menafsirkan
perilaku konsumen. Hal ini sangat dibutuhkan oleh manajer untuk dapat memahami
mengapa dan bagaimana perilaku konsumen tersebut, sehingga perusahaan dapat
mengembangkan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan produk
secara lebih baik, secara lebih seimbang sebagai syarat yang penting untuk
menguasai pasar. Definisi perilaku konsumen yang dikemukakan oleh F. Engel,
Paul W. Miniard dan Roger
D.
Blackwel adalah sebagai berikut:
Perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu
yang secara langsung terlibat mendapatkan dan menggunakan barang-barang dan
jasa-jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan
penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. (Engel, 1984;3)
Dari definisi di atas, ada dua elemen penting dari
arti perilaku konsumen yaitu proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik.
Adapun kedua elemen tersebut melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan
mempergunakan barang-barang dan jasa ekonomis.
Perilaku konsumen pada hakekatnya bukanlah hal yang
mudah untuk dipelajari. Karena perilaku konsumen merupakan salah satu bagian
dari perilaku manusia secara keseluruhan. Walaupun sulit untuk mempelajarinya,
perilaku konsumen sangatlah penting bagi pemasar, karena dengan mengenal dan merumuskan
keinginan dan kebutuhan konsumen maka akan diketahui produk yang bagaimana yang
dapat memuaskan konsumen tersebut. Sebagai bagian dari perilaku manusia secara
keseluruhan, konsumen akan berperilaku bila ada kesenjangan antara keadaan yang
sesungguhnya dengan keadaan yang diharapkan dari kebutuhan dan keinginan yang
ingin dialami.
Teori-teori dalam perilaku konsumen pada umumnya
mempunyai pengetahuan khusus yang dapat diterapkan pada situasi tertentu.
A. Teori
Ekonomi Mikro
Teori ini berpendapat bahwa untuk membeli merupakan
hasil perhitungan ekonomis rasional yang sabar. Pembeli individual berusaha
menggunakan barang-barang yang memberikan kegunaan yang paling banyak, sesuai
dengan selera dan harga relatif. Konsep ini menganut teori kepuasan marginal (Marginal
Utility) yang menyatakan bahwa konsumen akan meneruskan pembeliannya
terhadap suatu dari yang sama yang telah dikonsumsinya.
B. Teori
Psikologis
Teori psikologis mendasarkan diri pada faktor-faktor
psikologis individu yang selalu dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan.
Kegiatan individu di waktu sekarang, merupakan hasil dorongan
kebutuhan-kebutuhan dasar yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tinggal
dan hidup.
C. Teori
Sosiologi
Dalam teori sosiologi atau sering disebut juga
psikologi sosial, seperti yang dikemukakan oleh ahli sosiologi Thorstein
Vabley, lebih menitik beratkan pada hubungan dan pengaruh antar individu yang
dikaitkan dengan perilaku mereka. Jadi lebih mengutamakan perilaku kelompok,
bukan perilaku individu. Arti kelompok disini adalah kelompok kecil seperti
keluarga, teman-teman, perkumpulan olahraga dan sebagainya.
D. Teori
Antropologis
Teori ini menekankan perilaku pembelian dari
kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya lebih luas. Seperti kebudayaan, sub
budaya, dan kelas-kelas sosial. Dengan meggunakan teori ini manajemen dapat
mempelajari akibat yang dirtimbulkan oleh faktor tersebut terhadap perilaku
konsumen, karena faktor-faktor memiliki peranan yang sangat penting dalam
membentuk sikap konsumen.
Secara umum faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumen dapat digolongkan mejadi dua, yaitu:
Faktor
Lingkungan Eksternal
Faktor lingkungan eksternal yang paling mempengaruhi
perilaku kosumen adalah lapisan masyarakat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.
Ini berarti bahwa konsumen yang berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan
yang berbeda akan mempunyai penilaian, kebutuhan, pendapatan, sikap dan selera
yang berbeda-beda. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi konsumen dapat
dibedakan sebagai berikut:
a. Kebudayaan
Manusia dengan kemampuan akal budaya telah
mengembangkan berbagai macam sistem perilaku demi keperluan hidupnya. Namun
berbagai macam sistem perilaku tadi harus dibiasakan olehnya dengan belajar
sejak lahir. Aspek belajar menyediakan cara hidup manusia dengan sistem
perilaku sebagai “Kebudayaan”. Kebudayaan merupakan simbol dan fakta yang
komplek yang diciptakan oleh manusia diturunkan dari generasi ke generasi
sebagai penentu dan pengatur perilaku manusia dalam masyarakat yang ada.
b. Kebudayaan Khusus
Dalam suatu masyarakat yang mempunyai jumlah anggota
yang besar dan menempati daerah yang luas, terdapat perbedaan-perbedaan
kebudayaan dalam berbagai bidang di daerah tersebut. Kebudayaan yang khusus ada
pada suatu golongan masyarakat yang berbeda dari kebudayaan masyarakat
lain. Inilah yang disebut sebagai kebudayaan khusus. Dengan demikian maka
perilaku konsumen yang mempunyai kebudayaan ini akan berbeda dengan perilaku
konsumen secara keseluruhan walaupun dalam satu lingkup kebudayaan.
c. Kelas Sosial
Kelas sosial adalah kelompok yang relatif permanen
dan homogen dalam sebuah masyarakat. Anggota-anggota kelasnya mempunyai nilai,
guna hidup, minat dan perilaku yang serupa. Umumnya tingkat pendidikan dan
pekerjaan merupakan indikator kelas sosial yang paling akurat. Kelas sosial
seseorang menunjukkan pola hidup orang yang bersangkutan.
Orang yang berasal dari sub-budaya yang sama, kelas
sosial yang sama dan bahkan pekerjaan yang sama dapat mempunyai gaya hidup yang
berbeda. Banyak orang yang dari kelas sosial yang lebih rendah berusaha meniru
anggota kelas yang lebih tinggi dengan membeli barang dan jasa yang serupa dan
perilaku pembelian mereka dipengaruhi persepsi mereka akan kelas sosial. Jadi
sampai sejauh mana pemasaran mampu mempromosikan produknya sehingga dirasakan
bisa membantu kegiatan konsumen untuk mencapai kelas sosial yang lebih tinggi.
Pada umumnya, masyarakat kita dapat dikelompokkan ke
dalam tiga golongan masyarakat sebagai berikut:
-
Golongan atas, yang termasuk di dalam golongan ini antara lain:
pejabat tinggi, pengusaha kaya.
-
Golongan menengah, yang termasuk di dalam golongan ini antara lain: pengusaha
menengah, karyawan instansi pemerintah.
-
Golongan Rendah, yang termasuk di dalamnya antara lain: pengusaha kecil, buruh,
tukang dan pedagang kecil.
Pembagian masyarakat menjadi tiga golongan ini
sangat relatif tergantung kepada tingkat pendapatan, jenis usaha, macam
perusahaan dan lokasi tempat tinggal.
d. Keluarga
Keluarga digambarkan untuk berbagai macam bentuk
rumah tangga. Yang dimaksud dalam bentuk rumah tangga yaitu “Keluarga Inti”,
meliputi Ayah, Ibu, dan anak-anak yang hidup bersama, serta “Keluarga Besar”,
yaitu keluarga inti ditambah dengan orang-orang yang mempunyai ikatan saudara
dengan keluarga tersebut, seperti kakak, nenek, paman, bibi, dan menantu. Dalam
pasar konsumen, keluargalah yang paling banyak membeli dan mengkonsumsi produk.
Pembelian tiap anggota keluarga berbeda-beda dan bermacam-macam tergantung dari
kebutuhan dan selera dari masing-masing anggota keluarga. Jadi pihak manajer
perusahaan dalam mengidentifikasikan perilaku harus dapat mengetahui siapa yang
menjadi inisiatif, penentu, pembeli atau siapa yang mempengaruhi suatu
keputusan dalam membeli.
e. Kelompok
Referensi
Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai
kelompok. Sebuah kelompok referensi bagi seseorang adalah kelompok-kelompok
yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan
perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung kepada seseorang
disebut kelompok keanggotaan, yakni dimana seseorang menjadi anggotanya dan
saling berinteraksi. Orang juga mempengaruhi kelompok-kelompok dimana ia bukan
merupakan anggotanya. Kelompok yang ingin menjadi anggotanya disebut kelompok
aspirasi.
f. Demografi
Demografi digambarkan untuk menggambarkan suatu
populasi kedalam istilah-istilah seperti ukuran, struktur dan distribusi.
Ukuran adalah untuk menggambarkan angka atau nomor dalam individu dalam suatu
populasi. Struktur sendiri menggambarkan populasi kedalam istilah-istilah umur,
pendapatan, pendidikan dan pekerjaan. Sedangkan distribusi dari suatu populasi
menggambarkan lokasi dan individu-individu tersebut kedalam suatu istilah
geografi suatu daerah dan desa, daerah perkotaan atau lokasi pinggiran kota.
Masing-masing dari faktor tersebut mempengaruhi perilaku konsumen dan
menyumbang secara keseluruhan dari suatu permintaan untuk bermacam-macam barang
atau jasa.
Faktor
Lingkungan Internal (Mikro)
Faktor-faktor psikologis yang berasal dari proses
intern individu sangat berpengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen. Dalam
memberikan pengetahuan yang sangat penting tentang alasan-alasan yang
menyangkut perilaku konsumen, maka teori-teori psikologis yang menjadi dasar
perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
a. Motivasi
Yang dimaksud dengan motivasi adalah keadaan dalam
diri pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan
kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motif yang ada pada diri seseorang
akan mengakibatkan suatu perilaku yang diarahkan mencapai sasaran kepuasan.
Jadi secara definitif dapat dikatakan bahwa motivasi adalah suatu dorongan
kebutuhan dan keinginan individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh
kepuasan.
b. Pengamatan
Adalah suatu proses dengan nama manusia atau
konsumen menyadari dan menginterprestasikan aspek lingkungan intern dan
ekstern., maka rangsangan tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap
pengamatan seseorang dalam tingkah laku, pengalaman ini diperoleh dari suatu
kejadian di masa lampau yang dapat dipelajari. Hasil dari pengalaman individu
ini akan membentuk suatu pandangan tertentu bagi individu tersebut dan
pengalaman antara individu yang satu dengan yang lain akan berbeda sehingga
dalam perilaku akan berbeda pula. Dalam penelitian yang dilakukan konsumen,
merupakan proses belajar dimana hal ini merupakan bagian dari hidup konsumen.
Proses belajar dalam pembelian terjadi apabila konsumen ingin menanggapi dan
memperoleh kepuasan atau sebaliknya. Tanggapan konsumen sangat dipengaruhi oleh
pengalaman lampau dan apabila konsumen mendapatkan suatu kepuasan, maka
tanggapan positif terhadap suatu produk dan adanya kecenderungan untuk
mengadakan suatu pembelian kembali atas produk yang sama apabila dibutuhkan
selama produk-produk tersebut memberikan kepuasan dan kombinasi petunjuk tidak
berubah. Demikian sebaliknya, apabila kepuasan dari produk yang dibelinya tidak
diperolehnya, maka kebiasaan akan membeli produk tersebut akan berkurang atau
mempunyai tanggapan yang negatif terhadap produk tersebut.
c. Sikap
Sikap (attitude) seseorang adalah prodeposisi
(keadaan mudah terpengaruh) dalam memberikan tanggapan terhadap rangsangan
lingkungan, hal ini juga merupakan hasil dari proses belajar yang selalu berhubungan
dengan obyek tertentu yang memberikan suatu penilaian berupa persetujuan yang
berarti menerima atau menolak obyek tersebut, sehingga apabila kita kaitkan
obyek tersebut sebagai suatu produk, maka akan terjadi suatu proses penerimaan
atau penolakan produk tersebut. Dalam penilaian untuk menentukan diterima atau
ditolak suatu produk, maka akan dipengaruhi oleh keadaan jiwa (dipengaruhi oleh
tradisi, kebiasaan dari kebudayaan, sebagainya) dan keadaan berfikir yang
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang.
Meurut William G. Nickles
pengertian sikap adalah sebagai berikut:
Sikap adalah suatu kecenderungan yang dipelajari
untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik ataupun kurang
baik secara konsisten. (Kotler, 1993;234)
Sikap adalah penting dalam proses pembuatan
keputusan pemasaran. Ada kecenderungan kuat untuk meanggapi bahwa sikap
merupakan faktor yang paling tepat untuk meramalkan perilaku dimasa yang akan
datang. Hubungan antara sikap dengan perilaku ini dapat membantu meramalkan
permintaan produk dan mengembangkan program pemasaran. Sikap itu merupakan
organisasi diri, unsur-unsur kognitif, emosional, dan momen-momen kemauan yang
khusus dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau, sehingga sifatnya
sangat dinamis dan memberikan pengarahan pada setiap tingkah laku. Sikap ini
juga dipengaruhi oleh sukses dan kegagalan di masa lampau dimana sukses dan
kegagalan ini sedikit banyak mengubah nasib menjadi tingkah laku yang hibituil
terhadap suatu situasi.
Sikap mempunyai tiga komponen, yaitu:
i.
komponen kognitif
Komponen ini berhubungan dengan kesadaran, dan
pengetahuan terhadap suatu objek tertentu. Komponen ini kadang-kadang disebut
komponen kepercayaan dan dinyatakan melalui pernyataan-pernyataan seperti “saya
percaya produk X atau saya tahu produk Y”. Kepercayaan merupakan bagian dari
proses belajar. Kepercayaan yang satu berintegrasi dengan kepercayaan yang
lainnya dan bersama-sama membentuk sikap terhadap obyek yang sama. Komponen ini
penting karena keputusan pemasaran selalu meminta informasi tentang ciri-ciri
produk, iklan, harga produk, kemudahan produk itu diperoleh dan lain-lain.
Identifikasi karakteristik kognitif terhadap keinginan ideal konsumen mengenai
atribut-atribut kunci yang paling penting merupakan petunjuk dasar untuk
pengembangan pasar.
ii. komponen efektif
Komponen ini berhubungan dengan kesukaan dan pilihan
terhadap suatu obyek tertentu. Komponen ini kadang-kadang komponen perasaan
yang dinyatakan melalui pernyataan-pernyataan seperti “suka produk X” atau
“produk Y sangat jelek”. Perasaan emosi ini juga bersifat situasional dan
mengevaluasi kepercayaan, individu selain dipengaruhi oleh variasi
individualitas yang unik,juga dipengaruhi oleh nilai-nilai kebudayaan. Komponen
ini penting, karena harus mengetahui perasaan-perasaan positif dan negatif dari
konsumen serta pilihan-pilihan dari pembeli sehubungan dengan program-program
pemasaran yang dilaksanakan oleh perusahaan.
iii. komponen tingkah laku
Komponen ini berhubungan dengan maksud untuk membeli
dan perbuatan sungguh-sungguh membeli. Maksud membeli merupakan tahapan sebelum
menuju kepada tahapan sungguh-sungguh membeli, maksud membeli ini merupakan
petunjuk tingkah laku membeli di masa datang. Tingkah laku berhubungan dengan
apa yang telah dilakukan atau sedang dilakukan oleh konsumen. Informasi yang
dicari adalah apa yang dibeli, berapa harganya, dimana membelinya, kapan
membelinya dan keadaan lingkungannya.
d. Kepribadian
Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda
yang akan mempengaruhi perilaku pembeliannya. Kepribadian menurut Philip Kotler
sebagai berikut:
“Kepribadian adalah pola sifat individu yang dapat
menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. (Swastha dan Irawan, 1986; 122)”
Kepribadian seseorang biasanya dinyatakan seperti
rasa percaya diri, dominasi otonomi, menghargai orang lain, kemampuan
sosialisasi, kemampuan mempertahankan diri, serta kemampuan menyesuaikan diri.
Kepribadian dapat menjadi variabel yang sangat bermanfaat dalam menganalisa dan
korelasi yang kuat terdapat antara jenis kepribadian tertentu dengan berbagai
pilihan produk atau merk.
Kemampuan untuk membeli yang diambil oleh pembeli,
sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. Setiap keputusan membeli
mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh komponen.
a. Keputusan
tentang jenis barang
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli
suatu produk.
b. Keputusan tentang
bentuk produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli
produk tertentu. Keputusan tersebut menyangkut pula ukuran, mutu, penampilan,
warna dan sebagainya.
c. Keputusan
tentang merk
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merk mana
yang akan diambil dan dibeli. Setiap merk
mempunyai keunggulan dan perbedaan
tersendiri
d. Keputusan tentang penjual
Konsumen harus mengambil keputusan dimana produk
tersebut dapat dibeli dan dimana konsumen tersebut akan membeli.
e. Keputusan
tentang jumlah produk
Konsumen harus mengambil keputusan tentang seberapa
banyak produk tersebut akan dibelinya suatu saat.
f. Keputusan
tentang waktu pembelian
Konsumen harus mengambil keputusan kapan harus
membeli suatu produk
g. Keputusan tentang
cara pembelian
Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode
atau cara pembayaran produk yang dibeli, apakah secara tunai atau secara
kredit.
Perilaku konsumen ini akan meentukan proses
pengambilan keputusan dalam pembelian mereka. Proses keputusan membeli ini
terdiri dari lima tahap, yaitu: pengenalan masalah (problem recognition),
pencarian informasi (information research), evaluasi alternatif (evolution
of alternatives), keputusan pembelian (purchase decision) dan
perilaku purna pembelian (post purchase behavior).
Adapun kelima tahap proses membeli tersebut
terlihat pada gambar berikut.
Proses Keputusan Membeli
Kelima tahap tersebut di atas dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Pengenalan
Masalah
Proses pembelian dimulai dengan pembeli mengenali
suatu masalah dalam hal ini kebutuhanya da menganalisanya. Hal tersebut
dilakukan untuk megetahui adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpeuhi
atau terpuaskan. Jika kebutuhan tersebut diketahui, maka kosumen akan segera
memahami adanya suatu kebutuhan yang belum perlu dipenuhi atau masih bisa
ditunda pemenuhanya serta kebutuhan-kebutuhan yang sama-sama harus dipenuhi.
Pada tahap ini pemasar perlu meneliti konsumen untuk mengetahui:
-
apa yang membuat rasa kebutuhan itu timbul
-
jenis rasa yang dibutuhkan
-
bagaimana rasa kebutuhan itu mengarah ke produk tertentu.
Dengan mengumpulkan informasi demikian ini, pemasar
akan mempunyai suatu kesempatan untuk mengidentifikasikan rangsangan yang lebih
sering menarik minat akan kategori yang bersangkutan. Kemudian pemasar mendapat
cara untuk mengembangkan rencana pemasaran dengan memanfaatkan kesempatan atas
rangsangan ini. Jadi dari tahap inilah proses pembelian itu dilakukan.
b. Pencarian Informasi
Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang
dirasakan, maka konsumen perlu mencari informasi. Pencarian informasi ini dapat
secara aktif maupun pasif, eksternal maupun internal. Pencarian informasi yang
bersifat aktif berupa kunjungan ke beberapa toko untuk membandingkan harga dan
kualitas produk. Sedangkan untuk mencari informasi secara pasif dapat didapat
dengan melihat iklan maupun membaca surat kabar tanpa mempunyai tujuan khusus
dalam pikirannya tentang suatu produk yang diinginkan. Pencarian informasi
intern tentang sumber-sumber pembelian dapat berasal dari komunikasi
perorangan. Sedangkan informasi ekstern dapat berasal dari media masa (seperti
majalah, surat kabar, radio, televisi) dan sumber-sumber informasi dari
kegiatan pemasaran perusahaan (seperti publikasi, iklan, informasi, dari
pedagang eceran.
Inti yang terpenting dari pemasar adalah sumber
informasi utama yang digunakan oleh konsumen dan tiap pengaruh terhadap
keputusan pembelian. Sumber informasi konsumen tergolong dalam empat kelompok,
yaitu:
-
sumber personal (keluarga, teman, tetangga dan kenalan)
-
sumber komersial (periklanan, tenaga penjual, pedagang, kemasan dan pameran)
-
sumber publik (media masa, organisasi, penilaian konsumen)
-
sumber eksperimental (penanganan, pengujian, penggunaan produk)
Mengenai sumber informasi yang digunakan oleh
konsumen, pemasar harus dengan cermat mengidentifikasikan dalam arti penting
sumber sebagai sumber informasi.
c. Evaluasi
alternatif
Tahap ini melalui 2 proses, yaitu
-
menetapkan tujuan pembelian dan menilainya
-
mengadakan seleksi terhadap alternatif pembelian berdasarkan tujuan pembelian.
Setelah tujuan pembelian ditetapkan, konsumen perlu
mengidentifikasikan alternatif-alternatif pembeliannya yang tidak dapat
terpisahkan dari pengaruh sumber-sumber yang memiliki (waktu, uang dan
informasi) maupun resiko keliru dalam pemilihan. Alternatif pembelian yang
telah diidentifikasikan, dinilai dan diseleksi menjadi alternatif pembelian
yang dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta keinginannya. Adapun kriteria
evaluasi menyangkut ciri-ciri produk pemberian bobot yang penting pada
ciri-ciri relevan, kepercayaan terhadap merk, fungsi utilitas dan sikap
konsumen ke arah alternatif merk melalui informasi tertentu.
d. Keputusan membeli
Keputusan membeli disini merupakan proses dalam
pembelian yang nyata. Jadi setelah melakukan tahap-tahap di atas, maka konsumen
harus mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Bila konsumen memutuskan
untuk membeli, konsumen akan menjumpai serangkaian keputusan yang harus diambil
menyangkut jenis produk, merk, penjual, kualitas, waktu pembelian dan cara
pembayarannya. Keputusan membeli ini sangat dipengaruhi oleh sikap orang lain
dan faktor-faktor situasional yang tidak diinginkan seperti pendapatan
keluarga yang diharapkan dan manfaat yang diharapkan dari produk tersebut. Sehingga
menghasilkan keputusan membeli.
e. Perilaku
setelah pembelian
Setelah membeli suatu produk, konsumen akan
mengalami suatu tingkat kepuasan atau tidak puas. Jika konsumen merasa puas
mereka akan memperhatikan suatu kemungkinan besar untuk membeli produk tersebut
pada kesempatan lain. Disamping itu ada konsumen merasa tidak puas setelah
pembelian, hal ini terjadi karena harga produk tersebut terlalu mahal, atau
kemungkinan karena tidak sesuai dengan keinginan atau persepsi sebelumnya.
Untuk mengurangi jumlah konsumen yang tidak puas setelah pembelian tersebut,
perusahaan harus melihat dan bertindak dengan menekankan pada segi-segi
tertentu yang diunggulkan atau servis tertentu dari pelayanannya.
BAB
III
GAMBARAN
UMUM PENELITIAN
A. Sejarah
Singkat Perusahaan
Sejarah berdirinya Indogrosir tidak lepas dari induk
perusahaannya yaitu PT. Intraco. Bermula dari Bisnis Distribusi barang-barang
kebutuhan sehari-hari, Intraco Group mulai mengembangkan sayap bisnisnya ke
usaha Minimarket Indomaret, salah satu toko yang mengambil konsep usaha Retail
Chain Store dengan pemilihan lokasi usaha yang sedekat mungkin dengan
konsumen ( Perumahan dan Perkantoran ). Sukses tersebut dilanjutkan dengan
medirikan anak perusahaan yaitu PT. Inti Cakrawala Citra. Perusahaan inilah
yang bergerak dalam bidang wholesale (pedagang besar) dan
retail yang membuka Supermarket Lion Super Indo dan Wholesale Store
Indogrosir.
Jadi secara kepemilikan Indogrosir berdiri dibawah
PT. Inti Cakrawala Citra yang merupakan anak perusahaan dari Intraco Group.
Indogrosir didirikan pada tahun 1993 di Jakarta. Indogrosir bergerak di bidang
jasa perdagangan, yang menyediakan, menjual dan mendistribusikan barang –
barang kebutuhan pokok dan barang dagangan lainnya, dalam rangka melayani kebutuhan
para pedagang (modern dan tradisional retailers) dan konsumen langsung (end
users). Jenis barang yang tersedia di Indogrosir sampai saatini kuraglebih
terdiri dari 8000 – 12000 jenis barang.
Dalam perkembangannya, sampai saat ini Indogrosir
sudah mempunyai banyak cabang di setiap kota besar di seluruh Indonesia
termasuk di Yogyakarta. Perkembangan ini dicapai berkat adanya kerjasama yang
baik di antara perusahaan-perusahaan di bawah Intraco group, dan juga dengan
memberikan pelayanan yang baik kepada pelangga, serta membina hubungan yang
baik dengan supplier Selain itu Indogrosir juga membuka jaringan
kemitraan dengan berbagai perusahaan besar maupun kecil dengan menyediakan
outlet di Indogrosir untuk digunakan. Kemitraan ini dapat diikuti oleh siapa saja
apabila memenuhi syarat-syarat tertentu.
B. Visi
Perusahaan
Adapun visi Indogrosir adalah untuk menjadi jaringan
grosir yang saling mengutungkan dan unggul dalam persaingan global
C. Misi
Perusahaan
Indogrosir adalah suatu bisnis wholesale dan retail
yang terus berkembang dengan misi utama menyediakan dan memuaskan kebutuhan
barang-barang kebutuhan pokok dan barang dagangan lainya kepada pedagang dan
konsumen langsung dengan kualitas dan harga yang bersaing serta pelayanan yang
aman dan nyaman.
D. Lokasi
Perusahaan
Supermarket Indogrosir Yogyakarta terletak di Jl.
Raya Magelang Km. 6, Sleman, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat
Indogrosir Yogyakarta tersebut dipandang sangat baik dan menguntungkan.
Pemilihan lokasi tersebut didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:
a. Pemasaran
Letak supermarket Indogrosir memudahkan konsumen
untuk mengetahui atau menghubungi perusahaan. Sehingga penjualan dan
pendistribusian tersebut dapat berjalan dengan lancar dan mudah untuk
dilaksanakan. Konsumen dari Indogrosir ini adalah pedagang eceran ataupun
pemakai langsung.
b. Tenaga kerja
Dengan perkampungan yang padat di sekitar
perusahaan, akan dapat memperoleh tenaga kerja yang banyak dengan biaya yang
relatif murah. Tapi yang terpenting adalah tenaga kerja di perusahaan ini
adalah tenaga kerja yang produktif.
c. Transportasi
Supermarket Indogrosir Yogyakarta ini terletak di
tepi jalan raya yang sangat ramai dan cukup strategis. Sehingga memudahkan
dalam hal transportasinya. Yaitu menghubungkan antara tenaga kerja dan konsumen
dengan Indogrosir.
d. Sarana Air dan
Listrik
Fasilitas air dan listrik yang memadai akan sangat
membantu kelancaran proses produksi perusahaan.
Disamping pertimbangan strategis di atas, masih ada
pertimbangan lain, yaitu faktor sosial, diantaranya:
a. Mengurangi
jumlah pengangguran dengan cara memberikan lapangan pekerjaan.
b. Membantu
pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama di masalah bahan pokok dan barang
dagangan.
E. Struktur
Organisasi
Struktur organisasi dalam Supermarket Indogrosir
Yogyakarta ini berbentuk garis. Kekuasaan dan tanggung jawab tertinggi dipegang
oleh satu pimpinan. Jadi perintah dari pimpinan langsung kepada bawahan.
Dalam bagan seperti terlihat di atas, dapat
diuraikan bagian kerja atas struktur organisasinya sebagai berikut:
1. Direktur
Utama
Direktur Utama bertindak sebagai manajer wilayah,
atau penanggung jawab urusa Indogrosir Yogyakarta. Bertanggung jawab
kepada perusahaan induk dan bertugas mengatur urusan yang berkaitan dengan
perusahaan induk.
2. General Manajer
General Manager bertugas membantu Direktur Utama
dalam urusan intern Indogrosir, serta mengatur hubungan Indogrosir dengan
pelanggan dan supplier. General Manager bertanggung jawab kepada Direktur Utama.
3. Bagian Umum
Bagian ini dipimpin oleh seorang Kepala Bagian,
bertugas membantu Manajer dalam urusan umum Indogrosir untuk membantu
kelancaran usaha, antara lain bertanggung jawab mengenai transportasi,
peralatan, sarana dan prasarana.
4. Bagian Keuangan
Bagian keuangan bertugas melakukan hitung keuangan
di Indogrosir dan bekerja sama dengan bagian retail utuk membuat pembukuan
serta bertugas melakukan inventarisasi kantor.
5. Bagian Retail
Bagian ini dipimpin oleh seorang Kepala Bagian.
Bagian retail bertanggung jawab kepada Manajer atas segala aktivitas retail da
bertugas untuk melakukan pegawasan terhadap karyawan retail. Bagian ini dibantu
oleh Supervisor Retail dan Kepala Kasir.
6. Supervisor Retail
Supervisor Retail membawahi beberapa pramuniaga
dalam suatu kelompok tugas yang sama. Bertugas mengawasi pramuniaga yang
bekerja dan mengawasi kartu stok inventarisasi barang dagangan.
7. Kepala Kasir
Kepala Kasir membawahi beberapa kasir dan bertugas
mengawasi pekerjaan kasir serta melakukan rekap atas struk tercetak dan
mengecek keabsahannya.
8. Bagian Administrasi
dan Personalia
Bagian administrasi dan personalia yaitu suatu
bagian yang bertugas melakukan kegiatan surat-menyurat baik ke dalam perusahaan
serta mendokumentasikan kegiatan perusahaan serta bertugas untuk mengatur
urusan kepegawaian, penggajian dan pengawasan terhadap absensi karyawan.
9. Bagian Supply dan
Gudang
Bagian ini bertugas menangani urusan stok di gudang
dan berhubungan dengan pihak supplier. Dalam tugasnya dibantu oleh Bagian
Purchasing dan Bagian Gudang.
10. Bagian Purchasing
Bagian ini bertugas untuk melakukan pemesanan kepada
supplier dengan persetujuan Kepala Bagian Gudang. Pemesanan dilakukan setelah
menerima laporan dari Bagian Gudang dan melakukan pengecekan.
11. Bagian Gudang.
Bagian ini bertugas untuk menginventarisasi stok
yang ada di gudang dan menjaga agar suatu jenis barang tidak menghilang dari
rak supermarket karena kekosongan stok.
12. Manajer OMI (Outlet Mitra Indogrosir)
Manajer OMI bertugas untuk menjaga kelancaran
hubungan dengan mitra Indogrosir yang mengikuti program OMI, yaitu program
kemitraan dimana Indogrosir menyediakan barang dengan diskon khusus dan
bimbingan..
F. Pemasaran dan Promosi
Sebagai perusahaan besar Indogrosir harus mempunyai
strategi pemasaran dan promosi yang baik. Adapun bentuk-bentuk yang sering
dilakukan Indogrosir antara lain:
1.
Program Super Promo pada setiap tanggal 1-15 atau 16 – 31 setiap bulannya
dengan mengikuti event atau kejadian tertentu. Promosi ini ditujukan untuk
meningkatkan penjualan dengan pemberian diskon untuk barang-barang yang dijual.
2.
Program Segar Berkualitas pada setiap hari Rabu dan Kamis. Program ini
memberikan diskon untuk jenis barang yang segar berupa sayuran atau makanan
mentah siap olah.
3.
Program Harga Spesial untuk setiap hari Selasa. Program harga spesial
memberikan diskon terhadap jenis barang tertentu. Promosi ini dilakukan
Indogrosir untuk menaikkan penjualan barang-barang yang lama perputarannya.
4.
Program JSM setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu. Merupakan program
setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu. Program ini memberikan diskon untuk
barang-barang keperluan rumah tangga.
Kemudian selain aktivitas promosi tersebut, dalam
rangka menigkatkan pemasarannya pihak Indogrosir juga membuat Exclusive Principal
Promo setiap bulannya. Exclusive Principal Promo adalah promosi yang
benar-benar disesuaikan dengan kejadian yang ada dan sedang terjadi, seperti
hari besar atau hari spesial lainnya. Dan bentuk promosi ini akan selalu
berubah sesuai kejadian tersebut.
G. Kemitraan
1.
Intraco Group
Merupakan jaringan kemitraan dalam satu kelompok
usaha. Dalam jaringan ini pihak Indogrosir mendapatkan suplai dan mensuplai ke
pihak lain dalam satu jaringan. Hal ini ditujukan untuk lebih menekan
biaya modal
pengadaan barang.
2.
Outlet Mitra Indogrosir (OMI)
OMI merupakan program kemitraan antara Indogrosir
dengan Pemilik Toko Retail tradisional, atau investor yang ingin mengelola dan
memiliki Minimarket modern, yang dijalankan secara profesional.
Syarat untuk bermitra :
1. Mempunyai tempat usaha minimal 70 m2.
2. Memiliki modal awal minimal Rp.100 s/d Rp.200
juta.
Dengan kemitraan ini, pihak OMI mendapat manfaat :
1. Harga terendah atas pembelian barang dagangan
dari Indogrosir.
2. Fasilitas kredit dalam pembelian barang dagangan.
3. Bantuan dan bimbingan teknis dalam pengoperasian
Toko.
BAB
IV
ANALISA
DATA
A. Deskripsi
Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
yang diperoleh dari hasil survey terhadap 200 orang pelanggan baik pedagang
maupun konsumen akhir yang berbelanja di Indogrosir. Dari data yang di dapat
akan diteliti dulu karakteristik dari responden tersebut. Kemudian untuk
mengetahui apakah data itu valid dan reliabel digunakan dalam penelitian ini
atau tidak digunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Dilanjutkan dengan
menganalisa sikap konsumen dan mengetahui apakah ada perbedaan antara sikap
konsumen akhir dan pedagang kepada Supermarket Indogrosir dengan menggunakan
uji Mann Whitney U.
B. Karakteristik
Responden
Dari hasil kuesioner yang dibagikan kepada 200 orang
pelanggan baik pedagang maupun konsumen akhir, maka dapat diketahui
karakteristik umum responden menurut usia, jenis kelamin, pendidikan, dan
pendapatannya.
1. Komposisi Responden Menurut Usia
Tabel 4.1.
Komposisi Responden Menurut Usia
Usia
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
20 – 30 tahun
31 – 40 tahun
41 – 50 tahun
51 – 60 tahun
60 tahun keatas
|
56
71
52
18
3
|
28
35,5
26
9
1,5
|
200
|
100
|
Sumber : Data Primer
Dari karakteristik responden menurut tingkat usia, responden
terbanyak adalah mereka yang memiliki tingkat usia antara 31 – 40 tahun
sebanyak 71 responden (35,5 %), kemudian tingkat usia 20 – 30 tahun sebanyak 56
responden (28 %), kemudian tingkat usia 41 – 50 tahun sebanyak 52 responden (26
%), tingkat usia antara 51 – 60 tahun sebanyak 18 responden (9 %), dan tingkat
usia di atas 61 tahun sebanyak 3 responden (1,5%).
2. Komposisi Responden Menurut Jenis Kelamin
Dari penyebaran kuesioner dapat diketahui komposisi
responden menurut jenis kelamin yang disajikan pada
tabel 4.2. berikut ini :
Tabel 4.2.
Komposisi Responden Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
Laki-laki
Perempuan
|
63
137
|
31,5
68,5
|
200
|
100
|
Sumber : Data Primer
Dari tabel 4.2. di atas dapat diketahui bahwa
rata-rata pelanggan yang sebagai responden paling banyak adalah perempuan
adalah 137 (68,5 %), sedangkan jumlah pelanggan laki-laki sebanyak 63 (31,5 %).
3. Komposisi Responden Menurut Status
Perkawinan
Dari penyebaran kuesioner dapat diketahui komposisi
responden menurut jenis kelamin yang disajikan pada
tabel 4.3. berikut ini :
Tabel 4.3.
Komposisi Responden Menurut Status Perkawinan
Status
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
Belum /TidakMenikah
Menikah
|
86
114
|
43
57
|
200
|
100
|
Sumber : Data Primer
Dari tabel 4.2. di atas dapat diketahui bahwa
rata-rata pelanggan yang sebagai responden paling banyak adalah sudah menikah
adalah 114 (57 %), sedangkan jumlah pelanggan yang belum menikah atau tidak
menikah sebanyak 86 (43 %).
4. Komposisi Responden Menurut Tingkat
Pendapatan
Tabel 4.4.
Komposisi Responden Menurut Pendapatan
Tingkat Pendapatan
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
< Rp. 300.000
Rp. 301.000 – Rp. 800.000
> Rp. 801.000
|
26
46
128
|
13
23
64
|
200
|
100
|
Sumber : Data Primer
Menurut latar belakang pendapatan ternyata diketahui
bahwa komposisi respondennya yang paling banyak adalah yang berpendapatan
diatas Rp. 801.000, yaitu sebanyak 128 responden (64 %), kemudian yang
mempunyai pendapatan antara Rp. 301.000 – Rp. 800.000 sebanyak 46 (23 %).
Dan sisanya sebanyak 26 responden atau 13 % mempunyai pendapatan kurang dari
Rp. 300.000
5. Komposisi Responden Menurut Asal Wilayah
Tabel 4.5.
Komposisi Responden Menurut Asal Wilayah
Tingkat Pendidikan
|
Jumlah
|
Prosentase (%)
|
Yogyakarta
Luar Kota
|
168
32
|
84
16
|
200
|
100
|
Sumber : Data Primer
Menurut asal wilayah diketahui bahwa komposisi
respondennya mayoritas adalah warga Yogyakarta, yaitu sebanyak 168 responden
(84 %), dan sisanya sebesar 16 % atau sebanyak 32 orang berasal dari luar kota.
C. Pengujian
Validitas dan Reliabilitas
1. Pengujian Validitas
Validitas adalah tingkat ketepatan suatu alat ukur
untuk dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menguji tingkat
validitas digunakan Korelasi Pruduct Moment Pearson dengan
rumus sebagai berikut:
Di mana:
rXY = korelasi Product-moment pearson
n = banyaknya
subyek uji coba
X = skor masing-masing
variabel
Y = skor masing-masing
variabel
Nilai rXY yang didapat akan diperbandingkan dengan
nilai r tabel. Besarnya r tabel ditentukan
dengan derajat kebebasan N-2, yaitu 100 – 2 = 98 pada taraf signifikansi
5%. Hasil yang didapat untuk r tabel adalah 0,202.
Apabila rXY berada di atas r tabel,
atau rXY lebih besar daripada r tabel mak berarti
dinyatakan valid dan sebaliknya.
Dalam penelitian ini, data yang didapat dengan
menyebarkan kuisioner akan dipisah menurut kriteria kuisioner dan tipe
responden. Pengujian dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS versi
11.
a. Uji Validitas Evaluasi Konsumen
Untuk kuisioner evaluasi konsumen, hasil uji
validitas untuk masing-masing tipe responden terhadap butir pertanyaan dapat
dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.6
Uji Validitas Kuisioner Evaluasi
Quis No
|
Koefisien Korelasi
|
rXY
|
Status
|
|
(Pedagang)
|
(Konsumen Akhir)
|
|||
1
|
0,664
|
0,636
|
0,202
|
Valid
|
2
|
0,734
|
0,696
|
0,202
|
Valid
|
3
|
0,402
|
0,370
|
0,202
|
Valid
|
4
|
0,648
|
0,281
|
0,202
|
Valid
|
5
|
0,368
|
0,375
|
0,202
|
Valid
|
6
|
0,530
|
0,390
|
0,202
|
Valid
|
7
|
0,326
|
0,347
|
0,202
|
Valid
|
Dari ketujuh butir pertanyaan yang ada, maka dapat
diketahui bahwa semua pertanyaan evaluasi konsumen valid dan sah.
b. Uji Validitas Kepercayaan Konsumen
Untuk kuisioner kepercayaan konsumen, hasil uji
validitas untuk masing-masing tipe responden terhadap butir pertanyaan dapat
dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.7
Uji Validitas Kuisioner Kepercayaan
Quis No
|
Koefisien Korelasi
|
rXY
|
Status
|
|
(Pedagang)
|
(Konsumen Akhir)
|
|||
1
|
0,792
|
0,674
|
0,202
|
Valid
|
2
|
0,745
|
0,670
|
0,202
|
Valid
|
3
|
0,443
|
0,289
|
0,202
|
Valid
|
4
|
0,734
|
0,268
|
0,202
|
Valid
|
5
|
0,322
|
0,361
|
0,202
|
Valid
|
6
|
0,386
|
0,360
|
0,202
|
Valid
|
7
|
0,287
|
0,511
|
0,202
|
Valid
|
Dari ketujuh butir pertanyaan yang ada, maka dapat
diketahui bahwa semua pertanyaan kepercayaan konsumen valid dan sah.
Masing-masing butir pertanyaan yang ada di kuisioner
yang terdiri atas 7 pertanyaan tersebut, ternyata menghasilkan koefisien
korelasi (rXY) yang lebih besar dari r tabel. Berarti semua
pertanyaan dalam kuisioner dikatakan valid.
2. Pengujian Reliabilitas
Untuk menguji tingkat reliabilitas digunakan tehnik
koefisien Alpha dari Cronbach. Adapun rumus koefisien Alpha
tersebut, yaitu :
Dengan menggunakan bantuan program statistik SPSS
pada taraf signifikansi 5% didapat hasil reliabilitas (lihat lampiran) adalah
sebagai berikut:
Tabel 4.8
Analisis Reliabilitas Daftar Pertanyaan
Quisioner
|
Tipe Konsumen
|
r
|
Keterangan
|
|
Pedagang
|
Konsumen Akhir
|
Reliabel
|
||
Evaluasi
|
0,7127
|
0,6691
|
0,202
|
Reliabel
|
Kepercayaan
|
0,7128
|
0,6640
|
0,202
|
Reliabel
|
Besarnya rtt apabila dibandingkan
dengan rtabel dengan derajat kebebasan N – 2, 100 – 2 = 98 dan
pada taraf signifikansi 5% adalah 0,202. Karena nilai Koefisien Alpha
Cronbach jauh lebih besar dari r tabel artinya
syarat reliabilitas kuesioner sudah terpenuhi sehingga semua butir pertanyaan
dapat dikatakan reliabel.
3. Analisis Sikap Fishbein Methode
Analisis ini digunakan untuk mengetahui sikap
individu terhadap suatu objek. Analisis ini akan digunakan untuk menghitung
bagaimana kepercayaan dan penilaian konsumen terhadap atribut. Untuk itu
digunakan skala kualifikasi skor dengan gambaran sebagai berikut:
1
2
3
4
5
1
5,8
10,6
15,4
20,2
25
- Posisi 1, Ao antara 1 – 5,8 = Sangat Tidak Baik
- Posisi 2, Ao antara 5,8 – 10,6 = Tidak Baik
- Posisi 3, Ao antara 10,6 – 15,4 = Cukup Baik
- Posisi 4, Ao antara 15,4 – 20,2 = Baik
- Posisi 5, Ao antara 20,2 – 25 = Sangat Baik
Dari hasil pengolahan data, maka dapat dilihat hasil
analisa Fishbein pada masing-masing tipe konsumen seperti di bawah ini.
a. Kelompok Tipe
Konsumen Akhir
Hasil analisa fishbein terhadap evaluasi dan
kepercayaan konsumen akhir kepada Supermarket Indogrosir adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.9
Hasil Analisa Sikap Konsumen Akhir
Atribut
|
Nilai Ao
|
Posisi Ao
|
Sikap Konsumen
|
Harga
Layout
Kenyamanan
Kelengkapan
Lokasi Parkir
Lokasi Gedung
Pelayanan
|
14,6
15,55
13,18
13,84
13,64
12,96
14,35
|
3
4
3
3
3
3
3
|
Cukup Baik
Baik
Cukup Baik
Cukup Baik
Cukup Baik
Cukup Baik
Cukup Baik
|
Dari hasil analisa Fishbein untuk konsumen akhir,
dapat diketahui bahwa rata-rata konsumen akhir mempunyai sikap yang cukup baik
terhadap atribut-atribut yang di uji pada Supermarket Indogrosir, dan pada
atribut layout atau tata letak, maka konsumen akhir mempunyai tanggapan yang
baik.
b. Kelompok Tipe
Konsumen Pedagang
Hasil analisa Fishbein terhadap evaluasi dan
kepercayaan konsumen pedagang kepada Supermarket Indogrosir adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.10
Hasil Analisa Sikap Pedagang
Atribut
|
Nilai Ao
|
Posisi Ao
|
Sikap Konsumen
|
Harga
Layout
Kenyamanan
Kelengkapan
Lokasi Parkir
Lokasi Gedung
Pelayanan
|
16,27
15,47
14,24
15,03
15,04
15,89
14,63
|
3
4
3
3
3
3
3
|
Baik
Baik
Cukup Baik
Cukup Baik
Cukup Baik
Baik
Cukup Baik
|
Dari hasil analisa Fishbein untuk konsumen akhir,
dapat diketahui bahwa rata-rata konsumen pedagang mempunyai sikap yang cukup
baik terhadap atribut-atribut yang di uji pada Supermarket Indogrosir, dan pada
atribut harga, layout atau tata letak, dan lokasi gedung, maka konsumen
pedagang mempunyai tanggapan yang baik.
Dari hasil analisa Fishbein pada tipe konsumen akhir
dan pedagang, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata konsumen memliki sikap
yang baik terhadap Supermarket Indogrosir.
4. Analisis Uji Beda
Untuk uji ini akan digunakan uji Mann-Whitney U,
yaitu uji yang digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan sikap antara
konsumen akhir dengan pedagang dalam berbelanja ke Supermarket Indogrosir. Uji
dilakukan dengan program komputer SPSS. Melihat pada jumlah responden yang
lebih dari 20, maka untuk emnguji tidak digunakan pembanding U tabel, tetapi
digunakan pembanding yaitu sebesar :
n1.n2/2
= 200 x 200 /2
= 10.000
Apabila nilai U yang didapat lebih kecil daripada
nilai pembanding tersebut berarti nilai U tersebut signifikan dan tidak ada
perbedaan sikap konsumen akhir dan pedagang terhadap atribut.
Dari hasil pengolahan data dengan program SPSS
seperti yang terdapat pada lampiran, maka didapatkan nilai U untuk
masing-masing atribut yang diuji seperti tabel berikut::
Tabel 4.11
Hasil Uji Mann Whitney U
Atribut
|
U
|
Keterangan
|
Harga
|
4055,5
|
Tidak ada perbedaan
|
Layout
|
4746,5
|
Tidak ada perbedaan
|
Kenyamanan
|
3903,5
|
Tidak ada perbedaan
|
Kelengkapan Produk
|
4241,0
|
Tidak ada perbedaan
|
Lokasi Parkir
|
4055,5
|
Tidak ada perbedaan
|
Lokasi Gedung
|
2716,5
|
Tidak ada perbedaan
|
Pelayanan
|
4997,5
|
Tidak ada perbedaan
|
Dari hasil nilai U di atas, maka dapat diinterpretasikan
hasilnya untuk masing-masing atribut sebagai berikut ini
a. Atribut Harga
Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U yang dilakukan
dengan program SPSS, maka didapatkan nilai U sebesar 4055,5.
Nilai ini lebih kecil daripada 10000, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara sikap konsumen akhir dan pedagang
terhadap harga.
b. Atribut Layout
Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U yang dilakukan
dengan program SPSS, maka didapatkan nilai U sebesar 4746,5.
Nilai ini lebih kecil daripada 10000, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara sikap konsumen akhir dan pedagang
terhadap tata letak di Indogrosir.
c. Atribut
Kenyamanan
Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U yang dilakukan
dengan program SPSS, maka didapatkan nilai U sebesar 43903,5.
Nilai ini lebih kecil daripada 10000, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara sikap konsumen akhir dan pedagang
kenyamanan.
d. Atribut Kelengkapan
Produk
Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U yang dilakukan
dengan program SPSS, maka didapatkan nilai U sebesar 4241,0.
Nilai ini lebih kecil daripada 10000, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan terhadap kelengkapan produk antara sikap
konsumen akhir dan pedagang.
e. Atribut
Lokasi Parkir
Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U yang dilakukan
dengan program SPSS, maka didapatkan nilai U sebesar 4055,5.
Nilai ini lebih kecil daripada 10000, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara sikap konsumen akhir dan pedagang
terhadap lokasi parkir.
f. Atribut Lokasi
Gedung
Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U yang dilakukan
dengan program SPSS, maka didapatkan nilai U sebesar 2716,5.
Nilai ini lebih kecil daripada 10000, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara sikap konsumen akhir dan pedagang
terhadap lokasi gedung.
g. Atribut Pelayanan
Berdasarkan hasil uji Mann Whitney U yang dilakukan
dengan program SPSS, maka didapatkan nilai U sebesar 4997,5.
Nilai ini lebih kecil daripada 10000, berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara sikap konsumen akhir dan pedagang
terhadap pelayanan.
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis tentang sikap konsumen
terhadap Supermarket Indogrosir, maka dapat diambil beberapa kesimpulan seperti
berikut:
1.
Secara keseluruhan konsumen Supermarket Indogrosir baik konsumen akhir maupun
pedagang memiliki sikap yang cukup baik terhadap aribut-atribut Supermarket
Indogrosir Yogyakarta. Dan pada beberapa atribut sikap konsumen memiliki
rata-rata sikap yang baik seperti pada atribut harga tata letak dan lokasi
parkir.
2.
Hasil uji perbedaan antara sikap konsumen akhir dan sikap konsumen pedagang
dalam berbelanja di Supermarket Indogrosir menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan pada atribut-atribut yang diteliti. Dengan demikian
hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara sikap konsumen akhir
dengan pedagang dalam berbelanja di Supermarket Indogrosir, terbukti.
B. Saran
Setelah melakukan penelitian dan melihat hasil dari
penelitian tersebut, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:
1.
Sikap konsumen dipengaruhi oleh evaluasi dan kepercayan pelanggan, oleh karena
itu pihak Indogrosir dapat diupayakan agar senantiasa menambah pelayanan agar
kepuasan pelanggan atau konsumen dalam berbelanja dapat bertambah dan dengan
sendirinya maka tingkat kepercayaan konsumen akan semakin tinggi dan evaluasi
akan semakin bagus.
2.
Indogrosir adalah sebuah supermarket yang ditujukan untuk pembelian eceran
maupun dalam jumlah besar, dan seharusnyalah pihak Indogrosir tidak membedakan
pelanggan yang membeli eceran (konsumen akhir) dan membeli dalam bentuk partai
(biasanya pedagang), karena pembedaan sikap ini akan membuat nilai kepercayaan
pelanggan akan menurun dan dapat menjadi sarana promosi yang buruk bagi
Indogrosir.
3.
Untuk atribut-atribut yang diuji sendiri, sudah bagus, hanya perlu ditingkatkan
untuk menambah kenyamanan dan kepuasan konsumen dalam berbelanja. Penataan
ulang terhadap produk-produk dapat dilakukan untuk menyegarkan suasana agar
lebih menyenangkan bagi konsumen dalam berbelanja, tetapi diusahakan tidak
menyusahkan konsumen dalam mencari barang.
4.
Pihak Indogrosir dapat mencari strategi pemasaran (marketing mix) yang baru
untuk dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dan meningkatkan nilai penjualan
serta menjadi sarana promosi bagi Indogrosir sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Boyd, Harper W. Jr, Orville C. Walker. Jr dan Carl
McDaniel. 2001. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Kedua.
Alih Bahasa: Imam Nurnawan, S.E. Jakarta: Erlangga
Husein, Umar. 2002. Metode Riset Bisnis.
Jakarta: PT gramedia Pustaka Utama
J. Paul, Peter & C. Olson, Jery. 2003. Consumen
Behavior: Perilaku Konsimen dan Strategi Pemasaran. Edisi Keempat. Ahli
Bahasa: Damos Sihombing. Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar